Kolaborasi musik Indonesia dan Jepang kembali mendapatkan warna baru melalui RACH? dan idom. Solois Indonesia RACH?, atau Rachel Cia, menggandeng penyanyi, penulis lagu, sekaligus produser asal Jepang idom melalui single “Call It Love”. Lagu tersebut mempertemukan hipdut, R&B, dan pop dalam satu produksi yang menggunakan bahasa Indonesia, Jepang, serta Inggris. Hasilnya terasa lokal sekaligus mudah dibawa menuju pendengar internasional.

Proyek ini juga tidak berhenti sebagai kolaborasi jarak jauh. RACH? terbang ke Jepang dan membawakan “Call It Love” bersama idom di Billboard Live Tokyo pada 18 Juli 2026, sehari sebelum perilisan luasnya di sejumlah wilayah. Selain itu, kerja sama keduanya berkembang menjadi lagu kedua bertajuk “Tell Me What” pada Agustus. Dengan demikian, pertemuan RACH? dan idom mulai berkembang menjadi salah satu kolaborasi Indonesia-Jepang yang menarik sepanjang 2026.

“Call It Love” Lahir dari Pertemuan Indonesia dan Jepang

Awal kolaborasi RACH? dan idom datang melalui kerja sama antara Sony Music Entertainment Indonesia dan Sony Music Japan. RACH? mendapat kabar mengenai proyek lintas negara pada awal 2026. Menariknya, idom kemudian memilih RACH? sebagai musisi yang ingin ia ajak bekerja bersama.

Bagi RACH?, kesempatan tersebut cukup mengejutkan. Karakter musik keduanya tidak sepenuhnya sama. Namun, perbedaan itu justru membuka ruang untuk mencoba pendekatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Kemudian, proses kreatif mempertemukan keduanya bersama produser F4dli dan Gamaliel.

Alih-alih memaksakan salah satu karakter musik, mereka mencoba mencari titik temu. RACH? membawa unsur yang dekat dengan musik Indonesia, sedangkan idom datang dengan pengalaman R&B, hip-hop, dan pop Jepang. Karena itu, “Call It Love” akhirnya berkembang menjadi lagu yang tidak terdengar sepenuhnya Indonesia ataupun Jepang.

Selain itu, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mempertemukan artis dari dua pasar tersebut. Sebelumnya, Sony Music Indonesia dan Sony Music Japan juga menghubungkan Sisca Saras dan NeCome melalui “Swipe Kanan Kiri”. Kini, RACH? dan idom membawa formula tersebut menuju warna yang berbeda.

Hipdut Bertemu R&B dan Pop dalam Satu Lagu

Salah satu elemen paling menarik dari “Call It Love” adalah penggunaan hipdut. Istilah tersebut merujuk pada percampuran hip-hop dan dangdut yang membawa karakter ritmis lokal ke dalam produksi modern. Namun, lagu ini tidak menggunakan hipdut secara dominan dari awal hingga akhir.

Sebaliknya, elemen tersebut bertemu dengan R&B dan pop. Perpaduan itu membuat beat terasa modern, tetapi masih menyimpan identitas Indonesia. Di sisi lain, karakter idom memberikan nuansa yang lebih dekat dengan R&B kontemporer Jepang.

Proses pembuatannya juga berjalan cukup cepat. RACH?, idom, F4dli, dan Gamaliel bahkan berhasil menulis dua lagu hanya dalam dua hari. Meski waktunya singkat, mereka tidak memulai dengan formula genre yang terlalu kaku. Musik berkembang secara natural setelah ide cerita mulai terbentuk.

Pendekatan tersebut kemudian menghasilkan dua warna berbeda. “Call It Love” terasa lebih terbuka dan ringan, sedangkan lagu lanjutan mereka, “Tell Me What”, bergerak lebih dekat ke R&B. Karena itu, kedua lagu dapat dilihat sebagai dua sisi berbeda dari kerja sama RACH? dan idom.

Menariknya, wawancara mereka di Jepang juga memperlihatkan bahwa hipdut menjadi salah satu unsur yang membuat proyek ini berbeda. Genre tersebut membawa sesuatu yang tidak biasa bagi pendengar Jepang. Pada saat yang sama, R&B memberikan fondasi yang cukup familiar sehingga kedua budaya musik dapat bertemu tanpa terasa dipaksakan.

Kisah Cinta Digital Jadi Tema Utama “Call It Love”

Di balik produksinya yang ringan, “Call It Love” membawa cerita mengenai cinta yang lahir di dunia digital. RACH? menjadi sosok yang pertama kali mengusulkan konsep tersebut ketika proses penulisan dimulai.

Ceritanya menggambarkan dua orang yang bertemu melalui dunia game. Interaksi tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan yang semakin dekat meskipun keduanya berada di tempat berbeda. Karena itu, lagu ini juga mempunyai nuansa hubungan jarak jauh.

Tema tersebut terasa relevan dengan kehidupan generasi sekarang. Pertemanan, hubungan, bahkan kisah cinta dapat dimulai dari layar. Seseorang tidak harus bertemu secara fisik terlebih dahulu untuk membangun kedekatan emosional.

Namun, “Call It Love” tidak terlalu sibuk menjelaskan teknologi di balik hubungan itu. Sebaliknya, lagu lebih banyak membicarakan perasaan yang muncul ketika komunikasi digital mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.

Selain itu, penggunaan tiga bahasa memperkuat gagasan tentang hubungan tanpa batas geografis. Bahasa Indonesia menjadi identitas RACH?, sementara bahasa Jepang membawa karakter idom. Kemudian, bahasa Inggris menjadi jembatan yang membuat sebagian bagian lagu terasa lebih universal.

Dengan demikian, konsep dan produksinya berjalan dalam arah yang sama. Ceritanya membahas hubungan yang melewati jarak, sedangkan bentuk kolaborasinya sendiri mempertemukan dua musisi yang berasal dari negara berbeda.

Debut di Billboard Live Tokyo Jadi Langkah Besar RACH?

RACH? tidak hanya datang ke Jepang untuk merekam atau mempromosikan lagu. Pada 18 Juli 2026, ia tampil langsung di Billboard Live Tokyo bersama idom. Penampilan tersebut menjadi debut live pertamanya di Jepang sekaligus salah satu momen penting dalam perjalanan kariernya.

Membawakan “Call It Love” di Tokyo memberikan dimensi berbeda terhadap proyek tersebut. Lagu yang dibuat melalui pertemuan Indonesia-Jepang akhirnya diperkenalkan langsung kepada penonton Jepang sebelum perilisannya semakin luas di platform digital.

Bagi RACH?, kesempatan itu mempunyai arti khusus. Ia menyebut proyek kolaborasi tersebut sebagai pengalaman yang sangat berarti. Selain tampil, perjalanan ke Jepang juga memberinya kesempatan melihat bagaimana ekosistem musik di negara tersebut bekerja secara langsung.

Sementara itu, Billboard Live Tokyo merupakan venue yang cukup dikenal untuk pertunjukan intim dari musisi Jepang maupun internasional. Karena itu, penampilan RACH? di sana memberikan panggung yang tepat untuk memperkenalkan kolaborasi kepada penonton lokal.

Setelah pertunjukan tersebut, “Call It Love” mulai tersedia di layanan streaming. Apple Music mencatat rilisan single pada 18 Juli 2026, sementara sejumlah publikasi Indonesia mencatat perilisan luasnya pada 19 Juli. Perbedaan tanggal dapat terjadi karena zona waktu dan jadwal distribusi pada masing-masing wilayah.

Namun, yang lebih penting adalah bagaimana proyek ini memberikan RACH? akses langsung menuju pasar Jepang. Ia tidak hanya mengirimkan musik dari Indonesia, tetapi benar-benar hadir, tampil, dan bekerja bersama musisi lokal.

Kolaborasi Berlanjut Lewat “Tell Me What”

Hubungan kreatif RACH? dan idom ternyata tidak berhenti setelah “Call It Love”. Mereka juga menghasilkan lagu kedua berjudul “Tell Me What”, yang resmi hadir pada 14 Agustus 2026.

Jika lagu pertama membahas hubungan yang mulai tumbuh melalui dunia digital, “Tell Me What” mengambil sudut berbeda. Lagu kedua berbicara mengenai dua orang yang tidak yakin apakah hubungan mereka benar-benar dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.

Dengan kata lain, komunikasi menjadi titik pembeda utama. “Call It Love” menggambarkan dua orang yang berhasil terhubung meskipun dipisahkan jarak. Sebaliknya, “Tell Me What” membicarakan situasi ketika komunikasi justru mulai terasa tidak jelas.

Kontras tersebut memang direncanakan selama proses kreatif. RACH? ingin dua lagu yang mereka buat mempunyai konsep yang berbeda. idom kemudian menyambut ide itu karena dua lagu akan terasa lebih menarik jika tidak hanya mengulang formula yang sama.

Secara musikal, perbedaannya juga terlihat. “Call It Love” mempunyai unsur hipdut yang lebih jelas, sedangkan “Tell Me What” bergerak menuju karakter R&B yang lebih kuat. Meski demikian, keduanya masih membawa identitas pertemuan dua musisi tersebut.

Fakta bahwa kolaborasi menghasilkan dua lagu sekaligus menunjukkan adanya kecocokan kreatif yang lebih jauh daripada proyek satu kali. Selain itu, “Tell Me What” memperpanjang momentum mereka hingga Agustus dan membuat nama RACH? semakin dikenal di lingkungan musik Jepang.

“Call It Love” Membuka Jalan Baru Kolaborasi Indonesia-Jepang

Kolaborasi lintas negara sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam industri musik Asia. Namun, “Call It Love” menarik karena RACH? dan idom tidak hanya menempatkan dua nama dari negara berbeda dalam satu lagu. Mereka benar-benar mencoba menyatukan unsur musik dari kedua pasar.

Hipdut membawa identitas Indonesia, sedangkan R&B dan pendekatan produksi idom memberikan karakter Jepang yang lebih modern. Kemudian, tiga bahasa digunakan tanpa menjadikan lagu terasa seperti proyek yang sengaja dibuat hanya untuk menunjukkan unsur internasional.

Selain itu, keberadaan “Tell Me What” memperlihatkan bahwa hubungan kreatif tersebut dapat berkembang. Satu lagu menjadi pintu masuk, sementara lagu kedua memperlihatkan variasi musik yang dapat mereka hasilkan bersama.

Bagi RACH?, proyek ini menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas karier di luar Indonesia. Penampilan di Billboard Live Tokyo memberi pengalaman langsung di panggung Jepang. Sementara itu, bekerja bersama idom memberikan kesempatan untuk memperkenalkan karakter musik Indonesia kepada pendengar yang berbeda.

Di sisi lain, idom mendapatkan kesempatan mengeksplorasi unsur yang mungkin jarang hadir dalam musiknya. Hipdut menjadi salah satu contoh bagaimana elemen regional dapat masuk ke dalam produksi global tanpa kehilangan identitas aslinya.

Karena itu, “Call It Love” dapat dilihat sebagai bentuk kolaborasi yang lebih menarik daripada sekadar duet lintas negara. Lagu tersebut mempertemukan cerita, bahasa, budaya, dan pendekatan produksi dalam satu karya.

Pada akhirnya, musik memang menjadi salah satu medium paling mudah untuk melewati batas negara. RACH? dan idom menunjukkan hal itu melalui lagu yang berbicara tentang hubungan digital, tetapi justru lahir dari pertemuan nyata antara musisi Indonesia dan Jepang.

Setelah “Call It Love”, keduanya bahkan melanjutkan cerita melalui “Tell Me What”. Karena itu, kolaborasi ini mempunyai ruang untuk berkembang lebih jauh jika RACH? dan idom kembali bekerja bersama pada masa mendatang.

Untuk sekarang, “Call It Love” menjadi salah satu contoh menarik bagaimana musik Indonesia dan Jepang dapat bertemu tanpa menghilangkan karakter masing-masing. Dari hipdut menuju R&B, dari bahasa Indonesia menuju Jepang dan Inggris, RACH? dan idom berhasil membangun satu jembatan musik yang terasa modern sekaligus dekat dengan generasi digital.