
ADÉLA akhirnya resmi merilis album debut “PRIMA” pada 4 September 2026 melalui Capitol Records. Proyek ini berisi 11 lagu dan menjadi perkenalan penuh pertama dari penyanyi asal Slovakia tersebut setelah beberapa tahun membangun identitasnya melalui single, performa, dan perjalanan panjang menuju industri pop internasional. Melalui album PRIMA ADÉLA, ia mencoba memperlihatkan dua sisi sekaligus: energi pop yang tegas dan penuh ambisi, serta bagian yang lebih rapuh ketika berbicara tentang cinta, kehilangan, identitas, dan hubungan yang tidak sehat.
Album ini juga datang dengan momentum yang kuat. “Ain’t In LA”, salah satu single utama, baru saja menjadi hit yang menembus UK Top 40 dan bahkan naik ke posisi No. 1 Billboard Philippines Hot 100. Lagu tersebut juga memicu tren TikTok yang mendorong orang menunjukkan kebanggaan terhadap kota asal mereka. Karena itu, perilisan “PRIMA” terasa seperti puncak dari fase awal karier ADÉLA sekaligus awal dari ambisi yang lebih besar sebagai bintang pop global.
Di sisi lain, “PRIMA” bukan album yang hanya mengandalkan satu hit viral. ADÉLA membangun proyek ini sebagai gambaran tiga dimensi dirinya di usia 22 tahun. Ia ingin musiknya terdengar seperti kehidupan seorang perempuan muda yang sedang mencari posisi, menghadapi tekanan, jatuh cinta, terluka, dan tetap ingin menang. Karena itu, album ini bergerak cepat antara lagu yang penuh swagger dan balada yang lebih terbuka.
Album PRIMA ADÉLA Jadi Perkenalan Penuh Pertamanya
“PRIMA” berisi 11 lagu dalam versi standar. Tracklist dimulai dengan “KGB”, kemudian bergerak melalui “Nicole Kidman”, “I’m The Man”, “Boys”, “Red Bottoms”, “Hitachi”, “Fantasize”, “Starving Artist”, “Marijuana”, “Therapy”, dan ditutup oleh “Ain’t In LA”. Spotify dan Apple Music sama-sama mencantumkan susunan tersebut pada hari perilisan.
Judul “PRIMA” memiliki makna khusus. ADÉLA menjelaskan bahwa kata tersebut berarti “first”, sehingga terasa tepat untuk album debutnya. Namun, istilah itu juga terhubung dengan latar belakangnya sebagai ballerina. Sebelum terjun penuh ke musik, ADÉLA pernah menjalani latihan balet di Vienna State Ballet dan English National Ballet School. Karena itu, konsep “prima” terasa seperti simbol ambisi untuk menjadi pusat panggung.
Selain itu, album ini dieksekutif produseri Dylan Brady dan Blake Slatkin. Keduanya membantu membangun suara yang agresif, glossy, dan modern tanpa menghilangkan sisi emosional dari penulisan ADÉLA. Hasilnya terasa seperti kombinasi pop, hip-hop, elektronik, dan elemen club yang terus berubah dari satu track ke track berikutnya.
“Ain’t In LA” Jadi Hit Besar Sebelum Album Rilis
Sebelum “PRIMA” hadir, “Ain’t In LA” lebih dulu menjadi lagu yang mengangkat nama ADÉLA ke level baru. Single tersebut dirilis pada 23 Juli 2026 dan mempertemukan bass 808 yang berat, glitchy drums, chopped vocals, serta verse yang lebih sensual. Universal Music menggambarkan lagu itu sebagai refleksi perjalanan ADÉLA sejak meninggalkan Slovakia demi mengejar impian pop star.
Momentum tersebut kemudian meluas ke chart. “Ain’t In LA” debut di No. 26 Billboard Philippines Hot 100 pada pertengahan Agustus. Hanya beberapa minggu kemudian, lagu itu naik ke posisi No. 1. Pergerakan tersebut didorong oleh tren TikTok yang membuat pengguna menyesuaikan lirik dengan kota atau daerah asal mereka.
Di Inggris, Official Charts juga mencatat lagu itu sebagai Top 40 hit pertama ADÉLA. Pencapaian ini sangat penting karena “PRIMA” dirilis hanya beberapa minggu setelah momentumnya meningkat. Dengan demikian, album debut ini datang ketika perhatian publik terhadap dirinya sedang tumbuh sangat cepat.
Namun, ADÉLA tidak menjadikan “Ain’t In LA” sebagai pembuka album. Sebaliknya, lagu itu ditempatkan di posisi terakhir. Pilihan tersebut membuat track tersebut terasa seperti kesimpulan dari perjalanan album, sekaligus pernyataan bahwa asal-usul tetap menjadi bagian penting dari identitasnya.
Dari “KGB” hingga “Nicole Kidman”, ADÉLA Bangun Persona Pop yang Tajam
“PRIMA” dibuka dengan “KGB”, lagu yang langsung menegaskan sisi paling ambisius dari ADÉLA. Track tersebut membawa karakter keras dan penuh kontrol. Billboard juga menempatkan “KGB” sebagai salah satu lagu yang menonjol ketika membahas 11 track dalam album ini.
Kemudian, “Nicole Kidman” memperlihatkan sisi yang lebih playful dan percaya diri. Apple Music menyoroti lagu ini karena liriknya yang menampilkan ADÉLA sebagai sosok yang melihat dunia seperti ruang penuh kesempatan. Produksinya membawa sentuhan chipmunk-soul hip-hop yang membuat lagu terdengar ringan tetapi tetap memiliki attitude.
“I’m The Man” dan “Boys” kemudian memperkuat energi tersebut. Khusus “Boys”, Apple Music mencatat pengaruh club-pop dan swagger yang mengingatkan pada era pop awal 2000-an. Karena itu, bagian awal album terasa seperti pernyataan dominasi.
Namun, ADÉLA tidak membiarkan album terlalu lama berada di satu mode. Setelah beberapa lagu penuh karakter, “Red Bottoms” membawa sisi yang lebih rentan. Lagu tersebut membicarakan rasa tidak aman dan emosi yang muncul ketika seseorang mulai benar-benar membuka diri.
Dengan demikian, susunan album terasa seperti permainan kontras. ADÉLA sengaja mencampur keberanian dengan keraguan, keras dengan lembut, dan swagger dengan luka.
“PRIMA” Membuka Sisi Cinta, Identitas, dan Hubungan yang Rumit
Salah satu hal penting dalam album PRIMA ADÉLA adalah perubahan tema ketika album memasuki bagian tengah. Universal Music menyebut proyek ini sebagai tempat ADÉLA mengeksplorasi insecurities, toxic relationships, cinta, kehilangan, identitas, otonomi, serta pertemanan.
“Hitachi” menjadi salah satu contoh. Lagu ini membicarakan bentuk kasih sayang yang tertahan, sementara “Fantasize” bergerak menuju keinginan dan bayangan romantis. “Starving Artist” kemudian membawa perspektif yang lebih dekat dengan perjuangan membangun karier dan harga diri.
Di sisi lain, “Marijuana” menunjukkan sisi yang lebih ringan dan sensual. Apple Music menggambarkan lagu itu sebagai cerita tentang rasa euforia ketika jatuh cinta pada seseorang baru.
Perubahan tema tersebut membuat album tidak terasa seperti kumpulan lagu attitude saja. Justru, ADÉLA menunjukkan bahwa persona kuat yang ia tampilkan di permukaan tetap memiliki sisi yang mudah terluka.
Karena itu, “PRIMA” terasa seperti potret perempuan muda yang tidak ingin memilih antara terlihat kuat atau jujur. Ia mencoba menjadi keduanya sekaligus.
“Therapy” Jadi Salah Satu Lagu Paling Eksperimental
Menjelang akhir album, “Therapy” membawa perubahan yang cukup jelas. Apple Music menyebut track tersebut sebagai lagu paling eksperimental dalam proyek ini. Produksinya lebih minimal dan memberi ruang lebih besar pada stream-of-consciousness yang terasa seperti curahan pikiran tanpa filter.
Lagu ini bekerja seperti jeda emosional setelah beberapa track yang lebih penuh produksi. Karena itu, “Therapy” terasa penting dalam struktur album. ADÉLA tidak lagi fokus membangun persona atau menunjukkan ambisi. Sebaliknya, ia mulai melihat kembali hal-hal yang sudah ditinggalkan.
Kemudian, “Ain’t In LA” datang sebagai penutup dan membawa kembali energi yang lebih terang. Apple Music menggambarkan lagu tersebut sebagai pengingat bahwa bakat dan ambisi tidak hanya lahir dari kota besar. Pesannya menjadi lebih luas: seseorang bisa datang dari mana saja selama memiliki mimpi dan keberanian untuk mengejarnya.
Dengan demikian, transisi dari “Therapy” ke “Ain’t In LA” memberi album akhir yang cukup kuat. Dari refleksi internal, ADÉLA beralih menuju penerimaan asal-usul dan ambisi masa depan.
Dari Dream Academy menuju Debut sebagai Artis Solo
Perjalanan menuju “PRIMA” cukup panjang. ADÉLA pernah menjadi kontestan “The Debut: Dream Academy”, proyek kompetisi yang kemudian melahirkan KATSEYE. Namun, pengalaman itu tidak berakhir dengan dirinya masuk ke grup.
Setelah keluar dari kompetisi, ia tetap mengejar karier musik. Ia kemudian menandatangani kontrak dengan Capitol Records dan mulai membangun katalog solo secara bertahap.
Latar belakang balet juga tetap menjadi bagian penting dari identitasnya. Financial Times menyoroti bagaimana pengalaman di Vienna State Ballet dan English National Ballet School membentuk disiplin serta cara ia melihat performa.
Namun, ADÉLA sendiri tidak ingin “PRIMA” terdengar terlalu polished atau terlalu dewasa. Ia menegaskan bahwa album ini harus terdengar seperti karya seorang perempuan 22 tahun. Karena itu, ia sengaja mempertahankan sisi kasar, lucu, rapuh, dan penuh ego secara bersamaan.
Pendekatan tersebut membuat “PRIMA” terasa jauh dari debut yang terlalu hati-hati. ADÉLA tidak berusaha terlihat sempurna. Sebaliknya, ia ingin memperlihatkan sebanyak mungkin sisi dirinya dalam satu proyek pertama.
“PRIMA” Bisa Jadi Titik Awal Bintang Pop Baru
Respons awal terhadap album cukup kuat. Financial Times memberi “PRIMA” empat bintang dan menggambarkan ADÉLA sebagai salah satu nama pop baru yang layak diperhatikan. Billboard juga langsung menerbitkan ranking seluruh 11 lagu pada hari perilisan, menunjukkan bahwa album ini mendapat perhatian besar dari media musik utama.
Selain itu, keberhasilan “Ain’t In LA” memberi album fondasi komersial yang kuat. Lagu tersebut sudah memiliki basis pendengar sebelum proyek penuh dirilis, sementara track seperti “KGB” dan “Red Bottoms” sudah lebih dulu membangun karakter artistiknya.
ADÉLA juga menyiapkan versi eksklusif digital melalui toko resminya yang menambahkan bonus track “Nasty Dirty Gross”. Dengan demikian, versi store-exclusive berisi 12 lagu, sementara edisi standar tetap membawa 11 track.
Pada akhirnya, album PRIMA ADÉLA bukan sekadar debut yang mencoba memperkenalkan suara baru. Proyek ini terasa seperti deklarasi ambisi dari artis yang sejak awal ingin berada di panggung besar.
Ia membawa pengalaman sebagai ballerina, mantan peserta Dream Academy, imigran muda dari Slovakia, dan penulis lagu yang masih berada di awal perjalanan. Semua elemen tersebut akhirnya bertemu dalam “PRIMA”.
Jika momentum “Ain’t In LA” terus berlanjut, album ini bisa menjadi titik ketika ADÉLA benar-benar beralih dari nama pendatang baru menjadi salah satu wajah pop generasi berikutnya.