
Sepuluh tahun setelah kepergiannya, arsip musik Prince kembali membuka bagian lain dari perjalanan kreatif sang legenda. The Prince Estate bersama Legacy Recordings resmi merilis Timeless pada 28 Agustus 2026, sebuah album anumerta berisi 10 rekaman langka dan sebelumnya belum pernah dirilis yang berasal dari “Vault” milik Prince. Materinya membentang sangat jauh, mulai dari rekaman 1977 ketika Prince masih berusia 19 tahun hingga penampilan live pada 2016, hanya beberapa minggu sebelum kematiannya. Berbeda dari sejumlah rilisan arsip sebelumnya yang berpusat pada periode tertentu, Timeless menjadi proyek Prince pertama yang sengaja disusun untuk melewati seluruh era utama dalam kariernya. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu lama yang baru ditemukan, tetapi sebuah perjalanan kronologis yang memperlihatkan bagaimana kreativitas Prince terus berubah selama hampir empat dekade.
Timeless Membuka Hampir Empat Dekade Isi Vault Prince
Album Timeless Prince dimulai dengan “I Am You”, rekaman dari 1977 yang dibuat di Sound 80, Minneapolis. Saat itu, Prince masih berada di awal perjalanan profesionalnya dan sedang mengerjakan demo untuk mendapatkan kontrak rekaman. Dari titik tersebut, album bergerak secara kronologis menuju “Tick Tick Bang” dari 1981, “Heaven” dari 1985, serta “I Wonder” dari 1989. Susunan seperti ini membuat pendengar tidak sekadar menerima sepuluh lagu yang dikumpulkan secara acak. Sebaliknya, setiap rekaman berfungsi seperti penanda waktu yang membawa pendengar melewati fase berbeda dalam kehidupan kreatif Prince.
Perjalanan berlanjut melalui “With This Tear” dari 1991, “Stone” dari 1995, “Calabama” dari 2003, “The Guilty Ones” dari 2007, dan “Bestest Friend” dari 2012. Album kemudian berakhir dengan versi live “How Come You Don’t Call Me Anymore?” yang direkam di Oracle Arena, Oakland, pada 4 Maret 2016. Penampilan itu berasal dari Piano & A Microphone Tour, tur terakhir Prince sebelum meninggal pada 21 April 2016. Karena itu, pembuka dan penutup Timeless memiliki jarak hampir 40 tahun. Pendengar dapat mendengar Prince ketika masih menjadi musisi muda di Minneapolis, lalu mengakhiri perjalanan dengan Prince yang sudah menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik populer.
“The Guilty Ones” Jadi Salah Satu Rekaman yang Paling Menarik
Bersamaan dengan perilisan album, The Prince Estate juga memperkenalkan “The Guilty Ones” sebagai single baru lengkap dengan video musik. Prince merekam lagu tersebut di Paisley Park pada 26 Oktober 2007. Rekaman itu menghadirkan Marva King dan Shelby J. sebagai vokal tambahan, Josh Dunham pada bass, serta Cora Coleman-Dunham pada drum. Sementara itu, Prince menangani produksi, aransemen, komposisi, dan penampilannya sendiri. Ian Boxill terlibat sebagai recording engineer dalam sesi tersebut. Hasilnya memperlihatkan energi funk-rock yang sangat mudah dikaitkan dengan Prince pada periode tersebut.
Tahun 2007 sendiri menjadi periode penting dalam karier Prince. Pada tahun tersebut, ia menjalani rangkaian 21 konser di The O2, London, sebuah residensi yang kemudian menjadi salah satu pencapaian live penting dalam kariernya. Beberapa musisi yang terdengar dalam “The Guilty Ones” juga berasal dari lingkaran penampil Prince pada periode itu. Oleh karena itu, lagu tersebut tidak hanya menarik karena sebelumnya tersimpan di Vault. Rekamannya juga menangkap susunan musikal dan energi Prince pada fase ketika aktivitas panggungnya sedang sangat tinggi. Kini, hampir dua dekade setelah direkam, “The Guilty Ones” akhirnya mendapat perilisan resmi.
Selain lagu tersebut, Timeless sebelumnya sudah diperkenalkan melalui “With This Tear” dan “Stone”. “With This Tear” berasal dari November 1991 dan direkam di Paisley Park. Prince menulis, memproduksi, mengaransemen, sekaligus memainkan seluruh instrumen dalam rekaman tersebut. Menariknya, komposisi itu kemudian diberikan kepada Céline Dion, yang merilis versinya sendiri pada 1992. Sementara itu, “Stone” merupakan rekaman 1995 yang ditulis oleh Sandra St. Victor, Tom Hammer, dan Jules Van Even. Dua lagu itu lebih dahulu memberikan gambaran mengenai seberapa luas periode dan karakter musik yang ingin dijangkau Timeless.
Sepuluh Lagu Menunjukkan Perubahan Musik Prince
Pemilihan materi secara kronologis membuat album Timeless Prince dapat dibaca sebagai potret perkembangan seorang musisi yang hampir tidak pernah berhenti bereksperimen. “I Am You” membawa pendengar ke periode ketika Prince masih membangun identitas musikalnya. Kemudian, “Tick Tick Bang”, “Heaven”, dan “I Wonder” membawa perjalanan memasuki 1980-an, dekade ketika namanya berkembang menjadi fenomena global. Meski demikian, album tidak hanya berfokus pada masa kejayaan komersial seperti era 1999 atau Purple Rain. Justru rekaman yang tidak pernah mendapat tempat dalam album utama menjadi pusat perhatian.
Setelah itu, materi dari 1990-an memperlihatkan sisi lain dari produktivitas Prince. “With This Tear” menawarkan pendekatan yang lebih intim, sedangkan “Stone” membawa karakter funk yang berbeda. “Calabama” kemudian membawa perjalanan menuju 2003 sebelum “The Guilty Ones” memasuki periode 2007. Selanjutnya, “Bestest Friend” dari 2012 memperlihatkan Prince pada fase akhir kariernya. Lagu tersebut membicarakan hubungan dengan seseorang yang pernah menjadi teman sangat dekat sekaligus sumber inspirasi kreatif. Karena itu, tema personal tetap hadir meskipun Timeless mencakup rentang waktu yang sangat panjang.
Puncaknya hadir melalui “How Come You Don’t Call Me Anymore?” versi live. Lagu tersebut sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam katalog Prince, tetapi rekaman yang dipilih untuk Timeless berasal dari salah satu penampilan terakhirnya. Dengan hanya piano dan vokal sebagai pusat pertunjukan, versi tersebut menempatkan kemampuan Prince sebagai performer di bagian paling depan. Penutup itu terasa kontras dengan “I Am You” yang berasal dari masa awal kariernya. Namun, justru perbedaan itulah yang memperkuat konsep album: Prince terus berkembang tanpa kehilangan karakter musikal yang membuat karyanya mudah dikenali.
Vault Prince Masih Menyimpan Banyak Rekaman
Istilah “Vault” sudah lama menjadi bagian penting dari cerita Prince. Sang musisi dikenal sangat produktif dan merekam jauh lebih banyak materi daripada yang akhirnya dirilis secara komersial. Arsipnya mencakup lagu, demo, versi alternatif, rekaman live, hingga berbagai eksperimen yang tidak pernah masuk album resmi ketika ia masih hidup. Oleh sebab itu, setelah Prince meninggal pada 2016, keberadaan Vault menjadi salah satu sumber utama untuk memahami seberapa besar volume karya yang ia tinggalkan.
The Prince Estate kemudian mulai membuka bagian tertentu dari arsip tersebut melalui sejumlah proyek anumerta. Namun, Timeless mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih menggali satu periode secara mendalam, album ini memilih sepuluh titik dari berbagai era. The Prince Estate menyebutnya sebagai rilisan Prince pertama yang dikurasi untuk mencakup setiap era utama dalam kariernya. Dengan demikian, album berfungsi seperti pintu masuk bagi pendengar yang ingin melihat luasnya arsip tersebut tanpa harus berfokus pada satu album klasik tertentu.
L. Londell McMillan, produser Timeless sekaligus co-manager The Prince Estate, menjelaskan bahwa judul album menggambarkan Prince bukan hanya dari sisi kejeniusannya sebagai musisi. Menurutnya, karakter, gaya, keberanian, keyakinan, dan kreativitas Prince membuat warisannya tetap relevan. Ia juga memberi sinyal bahwa proyek dari arsip Prince masih akan berlanjut. Pernyataan tersebut tentu menarik karena Timeless hanya membawa sepuluh rekaman dari koleksi yang jauh lebih besar. Dengan kata lain, album ini kemungkinan bukan akhir dari proses pembukaan Vault.
Timeless Hadir Tepat 10 Tahun Setelah Kepergian Prince
Waktu perilisan Timeless juga memiliki makna khusus. Tahun 2026 menandai satu dekade sejak Prince meninggal pada usia 57 tahun. Selama hidupnya, ia membangun katalog yang melintasi funk, rock, pop, R&B, soul, jazz, hingga psychedelic music. Selain sebagai penyanyi, Prince dikenal sebagai multi-instrumentalis, produser, penulis lagu, arranger, dan performer yang memiliki kontrol besar terhadap karyanya. Karena itu, materi yang tidak pernah dirilis pun dapat memberikan konteks baru terhadap proses kreatifnya.
Prince juga memiliki kebiasaan bekerja dengan kecepatan tinggi. Dalam satu periode, ia dapat merekam banyak lagu yang akhirnya tidak masuk ke proyek utama. Beberapa materi kemudian diberikan kepada artis lain, sementara sebagian tetap tersimpan. “With This Tear” menjadi salah satu contoh menarik karena lagu tersebut akhirnya dikenal melalui Céline Dion meskipun Prince sudah membuat rekamannya sendiri terlebih dahulu. Kini, versi Prince dapat ditempatkan kembali dalam konteks perjalanan kreatifnya.
Selain tersedia melalui layanan streaming, Timeless juga hadir dalam format CD dan vinyl hitam. The Prince Estate menyediakan edisi terbatas Purple Marble Vinyl melalui kanal resmi. Seluruh proyek mendapat proses mastering dari Chris James, engineer dan produser nominasi Grammy yang sebelumnya pernah bekerja bersama Prince. Kreditnya mencakup proyek seperti HITnRUN Phase Two, Art Official Age, dan Plectrumelectrum. Karena itu, pengolahan rekaman lama tersebut tetap melibatkan seseorang yang memahami karakter suara Prince dari pengalaman langsung bekerja dengannya.
Timeless Menambah Babak Baru dalam Warisan Prince
Pada akhirnya, Timeless menawarkan sesuatu yang berbeda dari album anumerta biasa. Sepuluh rekaman di dalamnya tidak berasal dari satu sesi atau periode yang sama. Sebaliknya, album bergerak dari 1977 hingga 2016 dan memperlihatkan bagaimana Prince terus menulis, merekam, serta bereksperimen sepanjang hidupnya. Dari “I Am You” hingga “How Come You Don’t Call Me Anymore?” versi live, setiap lagu menjadi potongan kecil dari perjalanan yang berlangsung hampir empat dekade.
Selain itu, keputusan untuk menyusun lagu secara kronologis membuat pendengar dapat mengikuti perubahan tersebut dengan lebih mudah. “Tick Tick Bang”, “Heaven”, “I Wonder”, “With This Tear”, “Stone”, “Calabama”, “The Guilty Ones”, dan “Bestest Friend” berada di antara dua ujung perjalanan tersebut. Masing-masing datang dari kondisi, usia, dan fase karier yang berbeda. Namun, semuanya tetap membawa rasa penasaran musikal yang menjadi bagian penting dari identitas Prince.
Lebih dari satu dekade setelah rekaman terakhir dalam album dibuat, Vault masih mampu menghadirkan materi yang belum pernah didengar secara resmi. Itulah yang membuat album Timeless Prince memiliki daya tarik besar. Proyek ini tidak mencoba menciptakan album baru seolah-olah Prince masih berada di studio. Sebaliknya, The Prince Estate menggunakan rekaman yang benar-benar dibuat sepanjang hidupnya untuk memperlihatkan sisi perjalanan yang sebelumnya tersembunyi.
Sepuluh tahun setelah kepergiannya, pengaruh Prince juga belum menghilang dari musik modern. Katalog lamanya terus menemukan generasi pendengar baru, sementara Vault membuka kesempatan untuk memahami proses kreatifnya lebih dalam. Timeless kini menjadi bagian terbaru dari warisan tersebut. Namun, melihat besarnya arsip yang ditinggalkan Prince dan pernyataan Estate mengenai proyek mendatang, kemungkinan masih ada banyak bagian lain dari Vault yang suatu hari akan keluar dari pintu penyimpanannya.