
Alabama Shakes akhirnya kembali dengan album studio baru setelah penantian selama 11 tahun. Band asal Athens, Alabama, tersebut resmi merilis I Must Be Dreaming pada 28 Agustus 2026 melalui Island Records. Album ketiga ini menjadi penerus Sound & Color yang hadir pada 2015 sekaligus menandai babak baru bagi Brittany Howard, Heath Fogg, dan Zac Cockrell. Menariknya, reuni mereka tidak sejak awal dirancang untuk menghasilkan album. Pertemuan sederhana untuk sebuah pertunjukan amal justru menghidupkan kembali chemistry lama mereka. Dari sana, beberapa sesi latihan berkembang menjadi proses kreatif yang akhirnya menghasilkan 11 lagu baru dengan perpaduan psychedelic soul, blues, alternative rock, dan berbagai eksperimen yang memperlihatkan Alabama Shakes tidak sekadar kembali untuk bernostalgia.
Reuni Alabama Shakes Bermula dari Pertunjukan Sederhana
Cerita di balik album I Must Be Dreaming Alabama Shakes bermula dengan cara yang tidak terduga. Setelah menyelesaikan album solo keduanya, What Now, Brittany Howard mendapat ajakan dari Bo Hicks, salah satu pendiri Druid City Brewing Company di Tuscaloosa. Howard diminta tampil untuk membantu bisnis brewery tersebut sekaligus mendukung food pantry lokal. Ia kemudian menghubungi Heath Fogg dan Zac Cockrell untuk berlatih bersama. Pertemuan itu terasa menyenangkan sehingga mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan bermain lagi. Awalnya, rencananya hanya menulis beberapa lagu baru dan kembali menjalani tur. Namun, Cockrell sudah memiliki sejumlah demo, sementara anggota lainnya juga membawa ide masing-masing. Materi tersebut perlahan bertambah hingga mereka menyadari sebuah album penuh sudah berada dalam jangkauan. Alabama Shakes akhirnya kembali bukan karena rencana reuni besar, melainkan karena ketiganya kembali menikmati proses membuat musik bersama.
Kembalinya Alabama Shakes juga terasa berbeda karena para personelnya sudah menjalani kehidupan masing-masing selama masa jeda. Howard membangun karier solo melalui Jaime dan What Now, sedangkan Fogg mengembangkan proyek Sun on Shade. Sementara itu, pengalaman hidup selama lebih dari satu dekade membuat dinamika mereka ikut berubah. Howard menggambarkan ketiganya sekarang sebagai pribadi yang lebih lembut dan sensitif. Karena itu, reuni tersebut memberikan perasaan segar meskipun mereka memiliki sejarah panjang bersama. Album baru kemudian direkam di Sound Emporium Studios dan Blackbird Studio di Nashville. Alabama Shakes memproduseri proyek ini bersama Shawn Everett, sosok yang sebelumnya juga bekerja dengan berbagai nama besar. Prosesnya sengaja dibuat terbuka sehingga lagu dapat berkembang secara alami tanpa tekanan untuk meniru karya lama mereka.
I Must Be Dreaming Punya Dua Makna yang Bertolak Belakang
Judul I Must Be Dreaming menggambarkan dua perasaan yang dapat muncul secara bersamaan. Brittany Howard menjelaskan bahwa seseorang bisa melihat kondisi dunia yang begitu kacau sampai terasa seperti mimpi. Namun, pada saat yang sama, dunia juga dapat terlihat begitu indah hingga menimbulkan perasaan serupa. Dua kenyataan tersebut tidak harus saling menghapus. Sebaliknya, keduanya menjadi dasar emosional album yang membicarakan cinta, kematian, hubungan antarmanusia, harapan, serta berbagai kontradiksi kehidupan modern. Karena itu, Alabama Shakes tidak hanya menggunakan album comeback mereka untuk melihat kembali perjalanan masa lalu. Mereka justru berbicara mengenai keadaan sekarang dan bagaimana manusia mempertahankan harapan ketika lingkungan di sekitarnya terasa semakin tidak menentu.
Pendekatan tersebut terdengar jelas dalam “I Feel Hope Coming”. Lagu ini membawa optimisme di tengah kegelisahan sosial dan politik yang muncul dalam album. Howard mengatakan generasi muda memberinya harapan karena mereka semakin mampu melihat kebohongan politik dan mempertanyakan sistem yang ada. Sementara itu, Heath Fogg melihat lagu tersebut sebagai contoh kegembiraan yang muncul ketika Alabama Shakes kembali berkolaborasi. Tema lain muncul melalui “Garden”, sebuah lagu cinta yang menggunakan taman sebagai metafora hubungan. Menurut Howard, cinta membutuhkan perhatian seperti seseorang merawat tanaman. Selain itu, “American Dream” melihat runtuhnya cita-cita yang sebelumnya dianggap dapat dimiliki bersama, sedangkan “Another Life” membahas sifat cinta yang mampu bertahan melewati perubahan. Dengan demikian, album bergerak antara kekecewaan dan optimisme tanpa memaksakan satu jawaban sederhana.
11 Lagu Membawa Alabama Shakes ke Wilayah yang Lebih Eksperimental
I Must Be Dreaming berisi 11 lagu dengan “Tea Time” sebagai pembuka. Setelah itu, album bergerak melalui “Another Life”, “Garden”, “I Feel Hope Coming”, “Time”, “Friends”, “Easy”, “How Love’s Supposed To Go”, “Waist Deep”, “American Dream”, dan akhirnya “Tied To You”. Total durasinya sekitar 48 menit. Namun, hal paling menarik bukan sekadar jumlah lagu. Alabama Shakes memperluas palet suara mereka melalui penggunaan flute, harpsichord, sitar, serta susunan vokal yang lebih berlapis. Elemen tersebut berpadu dengan fondasi soul, blues, dan rock yang sudah melekat pada identitas band sejak awal. Hasilnya membuat album terdengar familiar sekaligus berbeda. Mereka masih memiliki karakter yang membuat Boys & Girls dan Sound & Color mudah dikenali, tetapi kali ini eksplorasi psychedelic soul terasa lebih kuat dan bebas.
“Tea Time” menjadi contoh menarik dari pendekatan tersebut sekaligus salah satu lagu favorit Howard dalam album. Lagu itu berkembang dari bass Zac Cockrell dan melodi keyboard Paul Horton sebelum Howard membangun gambaran tentang kekuatan internal, kedamaian, dan keinginan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Sementara itu, berbagai lagu lain bergerak bebas antara soul yang emosional, R&B, blues, rock, dan tekstur psychedelic. Perubahan tersebut sebenarnya memiliki akar dari Sound & Color. Album kedua mereka sudah mulai meninggalkan batas blues-rock tradisional dengan memasukkan lebih banyak eksperimen. Namun, sebelas tahun kemudian, Alabama Shakes memiliki pengalaman baru yang membuat eksplorasi tersebut berkembang lebih jauh. Karena itu, I Must Be Dreaming tidak terdengar seperti usaha untuk menciptakan ulang “Hold On” atau menghidupkan kembali suasana 2012. Mereka justru memilih melanjutkan evolusi yang sempat berhenti setelah Sound & Color.
Dari Sound & Color hingga Penantian Selama 11 Tahun
Alabama Shakes pertama kali mendapat perhatian luas melalui Boys & Girls pada 2012. Album debut tersebut menghasilkan “Hold On” dan membawa perpaduan blues, soul, roots, serta rock mereka menuju audiens internasional. Tiga tahun kemudian, Sound & Color menunjukkan bahwa band tidak ingin terus berada di jalur revivalisme yang sama. Album itu debut di posisi pertama Billboard 200 dan kemudian memenangkan Grammy untuk Best Alternative Music Album. Lagu “Don’t Wanna Fight” juga membawa Grammy untuk Best Rock Performance dan Best Rock Song. Setelah periode kesuksesan tersebut, band perlahan mengambil jeda. Mereka tidak mengumumkan perpisahan dramatis, tetapi aktivitas bersama berhenti. Howard kemudian menjelaskan bahwa istirahat tersebut penting untuk menjaga band dan hubungan mereka dengan musik. Tidak semuanya harus menjadi perlombaan untuk terus menghasilkan sesuatu.
Jeda panjang tersebut justru membuat album I Must Be Dreaming Alabama Shakes memiliki posisi menarik. Band kembali setelah masing-masing personel mendapatkan ruang untuk berkembang tanpa harus memenuhi ekspektasi terhadap nama Alabama Shakes. Karier solo Howard menjadi contoh paling jelas karena ia dapat mengeksplorasi psychedelic soul, funk, jazz, elektronik, dan berbagai pendekatan lain di luar batas band. Pengalaman tersebut tidak membuat Alabama Shakes berubah menjadi proyek solo Howard dengan nama lama. Sebaliknya, album baru kembali mengandalkan interaksi antara vokal dan gitar Howard, permainan gitar Heath Fogg, serta bass Zac Cockrell. Chemistry tiga teman lama itulah yang menjadi pusat proyek. Bahkan proses pengerjaannya berkembang dari spontanitas, bukan strategi untuk mengejar nostalgia setelah lebih dari satu dekade.
Comeback Dilanjutkan dengan Tur Dunia
Alabama Shakes tidak berhenti pada perilisan album. Mereka juga sedang menjalani tur dunia yang membawa materi I Must Be Dreaming ke Amerika Utara dan Eropa. Band sebelumnya menyelesaikan rangkaian headline Inggris dan Eropa pertama mereka dalam lebih dari satu dekade. Selanjutnya, mereka dijadwalkan melakukan debut di Radio City Music Hall, New York, pada 2 September 2026. Agenda lain mencakup beberapa pertunjukan bersama Tedeschi Trucks Band, penampilan sebagai pendukung Zach Bryan, serta festival seperti CityFolk, Borderland Music Festival, dan Ohana Festival. Rangkaian tersebut memberi Alabama Shakes kesempatan memperkenalkan materi baru langsung kepada penonton sekaligus mempertemukannya dengan lagu-lagu lama yang sudah menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
Namun, comeback ini terasa lebih penting daripada sekadar kesempatan memainkan kembali katalog lama. Alabama Shakes sekarang menghadapi pertanyaan mengenai seperti apa identitas band setelah sebelas tahun tanpa album. I Must Be Dreaming memberikan jawabannya dengan menolak bergerak mundur. Mereka tetap mempertahankan soul dan blues sebagai bagian penting dari musik, tetapi memasukkan pengalaman baru ke dalamnya. Selain itu, usia dan perjalanan masing-masing personel membuat hubungan mereka terhadap musik ikut berubah. Mereka tidak lagi berada pada posisi band muda yang sedang mencoba menembus industri. Karena itu, kebebasan untuk bereksperimen terasa lebih besar. Tur dunia kemudian menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana versi Alabama Shakes yang baru tersebut berkembang di atas panggung.
I Must Be Dreaming Jadi Awal Baru Alabama Shakes
Pada akhirnya, album I Must Be Dreaming Alabama Shakes bukan sekadar comeback setelah penantian panjang. Album ketiga ini menunjukkan bahwa jeda selama 11 tahun tidak menghilangkan chemistry Brittany Howard, Heath Fogg, dan Zac Cockrell. Sebaliknya, waktu tersebut memberi mereka pengalaman yang kemudian dibawa kembali ke dalam band. Proses reuni yang bermula dari pertunjukan sederhana di sebuah brewery bahkan memperkuat kesan bahwa proyek ini lahir secara alami. Tidak ada rencana awal untuk membuat album besar. Mereka hanya kembali bermain bersama, menemukan kesenangan yang pernah dimiliki, lalu membiarkan musik berkembang dari sana.
Selain itu, I Must Be Dreaming berhasil menghubungkan masa lalu dengan arah baru tanpa terlalu bergantung pada nostalgia. “Another Life”, “Garden”, “I Feel Hope Coming”, dan “American Dream” memperlihatkan rentang emosional yang luas, sementara eksperimen dengan flute, sitar, harpsichord, serta psychedelic soul membuat album memiliki identitas tersendiri. Tema mengenai cinta, harapan, kematian, politik, dan hubungan manusia juga membuat comeback ini terasa relevan dengan kondisi sekarang. Setelah Sound & Color membawa Alabama Shakes menuju puncak pada 2015, band tersebut akhirnya kembali bukan untuk mengulang keberhasilan lama. Mereka kembali untuk mengetahui sejauh mana musik tiga teman lama itu masih dapat berkembang. I Must Be Dreaming menunjukkan bahwa setelah 11 tahun, jawabannya ternyata masih sangat jauh.