Ada pertemuan yang sejak awal sudah diketahui akan berakhir dengan perpisahan.

Bagi penggemar Kodaline di Indonesia, malam 22 Agustus 2026 menjadi salah satu momen seperti itu. Band asal Irlandia tersebut kembali berdiri di hadapan pendengar Indonesia dalam LaLaLa Festival 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran.

Namun, kedatangan mereka kali ini membawa suasana berbeda.

Ini bukan sekadar kunjungan berikutnya. Kodaline sedang berada dalam perjalanan terakhir mereka sebagai sebuah band.

Setelah lebih dari satu dekade bersama, grup yang beranggotakan Steve Garrigan, Mark Prendergast, Jason Boland, dan Vinny May memutuskan menutup perjalanan Kodaline melalui rangkaian Farewell Tour 2026.

Menariknya, Jakarta mempunyai tempat tersendiri dalam cerita tersebut. Hubungan Kodaline dengan LaLaLa Festival sudah terbangun sejak sekitar satu dekade lalu.

Karena itu, ketika “All I Want”, “High Hopes”, dan berbagai lagu lainnya kembali terdengar di Jakarta, maknanya tidak lagi sama.

Lagu-lagu tersebut kini menjadi bagian dari sebuah ucapan selamat tinggal.

Kodaline Pamit Setelah Lebih dari Satu Dekade Bersama

Keputusan Kodaline untuk mengakhiri perjalanan mereka bukan kabar yang muncul tiba-tiba pada Agustus 2026.

Sebelumnya, band tersebut sudah mengumumkan rencana berpisah pada 2025. Setelah itu, mereka memilih memberikan satu perjalanan terakhir kepada para penggemar melalui Farewell Tour 2026.

Bagi sebuah band yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade bersama, keputusan tersebut tentu membawa emosi tersendiri.

Kodaline bukan sekadar nama yang muncul dengan satu lagu populer lalu menghilang. Sebaliknya, mereka tumbuh bersama pendengarnya.

Sebagian orang mungkin pertama kali mendengarkan Kodaline ketika masih sekolah. Pendengar lain menemukan “All I Want” ketika sedang mengalami patah hati. Sementara itu, ada pula yang mengenal “High Hopes” pada sebuah fase kehidupan yang sekarang sudah terasa sangat jauh.

Musik memang memiliki kemampuan unik untuk menyimpan waktu.

Sebuah lagu berdurasi beberapa menit dapat membawa seseorang kembali menuju kehidupan yang ia jalani sepuluh tahun sebelumnya.

Dalam kasus Kodaline, hubungan emosional seperti itulah yang membuat tur perpisahan mereka terasa berbeda.

“All I Want” Membawa Kodaline ke Pendengar Dunia

Sulit membicarakan perjalanan Kodaline tanpa menyebut “All I Want.”

Lagu tersebut menjadi salah satu karya yang paling melekat dengan nama Kodaline. Setelah hadir dalam album debut In a Perfect World, “All I Want” berkembang menjadi lagu yang dikenal luas oleh pendengar dari berbagai negara.

Meski demikian, kekuatannya bukan hanya terletak pada popularitas.

“All I Want” memiliki karakter emosional yang kemudian menjadi salah satu identitas Kodaline. Melodinya terasa besar, vokalnya terdengar rapuh, sementara ceritanya mudah dikaitkan dengan kehilangan dan hubungan manusia.

Setelah itu, nama Kodaline semakin kuat.

“High Hopes” menjadi karya penting lainnya. Kemudian muncul “The One”, “Love Like This”, “Brother”, “Moving On”, dan berbagai materi lain yang menemani perjalanan mereka.

Perlahan tetapi pasti, Kodaline menemukan tempat sebagai band yang dekat dengan cerita personal pendengarnya.

Mereka tidak harus menghadirkan musik yang rumit untuk menciptakan dampak besar. Justru, kekuatan mereka sering datang dari kesederhanaan.

Jakarta Memiliki Tempat Khusus dalam Perjalanan Kodaline

Ada alasan mengapa penampilan di LaLaLa Festival 2026 terasa lebih emosional dibandingkan konser biasa.

Hubungan Kodaline dengan festival tersebut ternyata memiliki sejarah panjang.

LaLaLa Festival menjadi pihak yang membawa Kodaline ke Indonesia sekitar 10 tahun sebelumnya. Kini, ketika perjalanan band tersebut mendekati akhir, Kodaline kembali ke festival yang menjadi bagian dari pertemuan awal mereka dengan pendengar Indonesia.

Dengan demikian, sebuah lingkaran terasa hampir lengkap.

Dulu mereka datang sebagai band yang sedang membangun hubungan dengan penggemar Indonesia. Sekarang, Kodaline kembali ketika sedang mengucapkan selamat tinggal.

Pihak LaLaLa bahkan menggambarkan momen tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan mereka. Festival menempatkan penampilan Kodaline sebagai farewell show, sehingga penggemar Indonesia mendapatkan kesempatan menyaksikan salah satu pertunjukan perpisahan mereka secara langsung.

Itulah yang membuat Jakarta terasa spesial.

Bukan karena menjadi kota terakhir dari seluruh Farewell Tour, melainkan karena sejarah antara Kodaline, festival, dan penggemar Indonesia kembali bertemu ketika band tersebut sedang menutup perjalanan panjangnya.

Kodaline Meminta Panggung yang Berbeda

Ada detail menarik menjelang penampilan Kodaline di Jakarta.

Sebagai salah satu headliner utama LaLaLa Festival 2026, mereka sebenarnya dapat ditempatkan di panggung utama. Akan tetapi, Kodaline justru mempunyai permintaan berbeda.

Menurut Founder LaLaLa Festival, Carmel Puma, Kodaline meminta untuk tidak tampil di main stage. Mereka memilih Karma Stage, panggung besar kedua festival, sekaligus meminta mendapatkan jadwal terakhir.

Selain itu, durasi penampilan mereka dirancang menyerupai sebuah konser tunggal.

Pilihan tersebut membuat pertunjukan Kodaline terasa lebih intim.

Alih-alih sekadar datang sebagai salah satu nama besar dalam festival, mereka mendapatkan ruang tersendiri untuk membangun malam perpisahan bersama penggemar.

Bahkan sebelum pertunjukan berlangsung, pihak festival mengungkapkan bahwa Kodaline telah mempersiapkan sesuatu yang spesial.

Detailnya memang tidak dibuka. Namun, satu hal sudah jelas: mereka tidak ingin kunjungan tersebut terasa seperti pertunjukan festival biasa.

Dari Dublin hingga Panggung Dunia

Perjalanan Kodaline sendiri tidak terjadi dalam semalam.

Band asal Dublin tersebut tumbuh menjadi salah satu grup rock alternatif Irlandia yang berhasil membangun basis pendengar internasional.

Album debut In a Perfect World kemudian menjadi titik penting. Dari sana, lagu-lagu Kodaline mulai bergerak melampaui Irlandia dan Inggris.

Seiring perkembangan kariernya, mereka melakukan tur ke berbagai wilayah dunia.

Eropa menjadi wilayah yang sangat familiar. Di sisi lain, Asia berkembang menjadi pasar penting dengan komunitas penggemar yang loyal.

Indonesia termasuk di dalam perjalanan tersebut.

Kehadiran mereka kembali di LaLaLa Festival memperlihatkan bahwa hubungan dengan pendengar Indonesia mampu bertahan selama bertahun-tahun.

Meski demikian, perjalanan sebuah band pada akhirnya memiliki batas.

Para anggota Kodaline pun memutuskan bahwa waktunya sudah tiba untuk menutup bab tersebut.

Perpisahan Kodaline Tidak Berakhir di Jakarta

Walaupun Jakarta menjadi panggung farewell yang penting, perjalanan Kodaline tidak langsung selesai setelah 22 Agustus 2026.

Hal ini penting karena Jakarta bukan konser terakhir Kodaline secara keseluruhan.

Setelah Indonesia, Farewell Tour masih membawa mereka menuju Taipei pada 24 Agustus. Selanjutnya, Kodaline dijadwalkan tampil di Kuala Lumpur pada 26 Agustus, kemudian Bangkok pada 28 dan 29 Agustus.

Perjalanan setelah itu masih berlanjut menuju Australia pada September.

Pada penghujung tahun, sejumlah pertunjukan di Eropa juga masih menunggu. Paris, Brussels, Hamburg, Berlin, Frankfurt, Zurich, Milan, Prague, Vienna, Munich, Cologne, Utrecht, London, Glasgow, dan Manchester termasuk dalam perjalanan perpisahan tersebut.

Artinya, Kodaline tidak mengucapkan selamat tinggal hanya kepada satu negara.

Mereka memilih berpamitan secara perlahan, dari satu kota menuju kota berikutnya.

Cara tersebut terasa sesuai untuk band yang mempunyai hubungan emosional begitu besar dengan pendengarnya.

Lagu-Lagu Kodaline Tumbuh Bersama Penggemarnya

Ada band yang dikenang karena inovasi musikal. Sebagian lainnya dikenang karena skala pertunjukan mereka.

Sementara itu, Kodaline memiliki kekuatan yang sedikit berbeda.

Lagu-lagu mereka sering hadir dalam momen yang sangat personal.

“All I Want” mungkin diputar seseorang ketika sebuah hubungan berakhir. Sebaliknya, “The One” dapat menjadi lagu untuk seseorang yang akhirnya menemukan pasangan hidupnya.

“Brother” mempunyai makna berbeda bagi pendengar yang menghubungkannya dengan persahabatan atau keluarga.

Kemudian, “High Hopes” dapat berbicara kepada seseorang yang mencoba bergerak maju meskipun kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Karena itu, konser perpisahan Kodaline tidak hanya membawa nostalgia terhadap band.

Pendengar juga dapat merasakan nostalgia terhadap dirinya sendiri.

Ketika sebuah lagu lama dimainkan, seseorang mungkin tidak hanya mengingat kapan ia pertama kali mendengarkannya. Ia juga dapat mengingat siapa yang berada di sampingnya ketika itu, tempat tinggalnya, atau sesuatu yang sedang ia perjuangkan.

Bahkan, mungkin ada seseorang yang pernah ia cintai di dalam kenangan tersebut.

Jakarta Menjadi Sebuah “Full Circle Moment”

Kembalinya Kodaline ke LaLaLa Festival dapat dianggap sebagai sebuah full circle moment.

Sekitar satu dekade setelah festival tersebut mempertemukan mereka dengan penggemar Indonesia, keduanya kembali bertemu ketika Kodaline memasuki fase terakhir perjalanan sebagai band.

Situasinya seperti kembali membaca halaman awal sebuah buku sebelum menutup bab terakhir.

Tentu saja, perjalanan Kodaline setelah Jakarta masih berlanjut.

Masih ada kota lain. Selain itu, ribuan penggemar di berbagai negara juga masih menunggu kesempatan terakhir untuk menyaksikan mereka.

Namun, bagi penggemar Indonesia, 22 Agustus menjadi kesempatan mereka untuk mengucapkan selamat tinggal.

Tidak semua penggemar mendapatkan kesempatan seperti itu.

Bubar Bukan Berarti Musik Kodaline Ikut Hilang

Ketika sebuah band mengumumkan perpisahan, ada kesan seolah seluruh ceritanya akan ikut berhenti.

Padahal, musik bekerja dengan cara berbeda.

Kodaline dapat berhenti melakukan tur bersama. Para anggotanya juga dapat melanjutkan kehidupan dan proyek masing-masing.

Namun, “All I Want” tidak otomatis berhenti diputar.

Begitu pula dengan “High Hopes”. Lagu tersebut tidak kehilangan makna hanya karena band yang menciptakannya tidak lagi berdiri bersama di atas panggung.

Sebaliknya, katalog musik mereka akan memasuki fase baru.

Pendengar lama dapat terus kembali. Pada saat yang sama, generasi baru mungkin menemukan lagu Kodaline bertahun-tahun kemudian.

Suatu hari nanti, seseorang yang bahkan belum mengenal Kodaline ketika In a Perfect World dirilis mungkin menemukan “All I Want” untuk pertama kalinya.

Kemudian, ia dapat merasakan emosi yang sama seperti jutaan pendengar sebelumnya.

Itulah salah satu keistimewaan musik.

Band memiliki usia. Namun, lagu tidak selalu demikian.

Selamat Jalan, Kodaline

Pada akhirnya, Farewell Tour 2026 bukan hanya cerita mengenai sebuah band yang memutuskan berhenti.

Tur tersebut juga menjadi perayaan terhadap perjalanan yang sudah terjadi.

Lebih dari satu dekade musik, album demi album, tur dunia, panggung festival, serta jutaan kenangan telah menjadi bagian dari perjalanan Kodaline.

Jakarta mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari bab terakhir tersebut ketika mereka kembali ke LaLaLa Festival pada 22 Agustus 2026.

Tempat yang memiliki sejarah panjang bersama Kodaline kini berubah menjadi salah satu panggung perpisahan penting dalam perjalanan mereka.

Setelah Jakarta, band tersebut memang masih harus melanjutkan tur. Taipei, Kuala Lumpur, Bangkok, Australia, Eropa, dan Inggris masih menunggu giliran untuk mengucapkan selamat tinggal.

Namun, bagi penggemar Indonesia, momen perpisahannya sudah terjadi.

Lampu panggung akhirnya padam dan penonton pulang. Setelah itu, yang tertinggal adalah lagu serta kenangan dari malam tersebut.

Meski Kodaline sedang pamit dari perjalanan mereka sebagai band, “All I Want”, “High Hopes”, “The One”, “Brother”, dan berbagai karya lainnya masih akan tinggal jauh lebih lama.

Pada akhirnya, mungkin itulah cara terbaik sebuah band mengucapkan selamat tinggal.

Bukan dengan benar-benar menghilang, melainkan dengan meninggalkan musik yang membuat pendengarnya selalu memiliki alasan untuk kembali.