
Lagu Jepang mendunia bukan lagi fenomena yang hanya terjadi sesekali. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak karya dari Negeri Sakura yang berhasil menarik perhatian pendengar internasional. Menariknya, tren tersebut tidak hanya datang dari lagu baru. Musik yang sudah berusia belasan bahkan puluhan tahun juga menemukan generasi pendengar baru.
Salah satu contoh terbesarnya datang dari “TOKYO DRIFT (FAST & FURIOUS)” milik TERIYAKI BOYZ. Lagu yang sudah berusia sekitar dua dekade itu kembali menunjukkan kekuatannya pada 2026.
Selain TERIYAKI BOYZ, nama seperti Fujii Kaze, YOASOBI, imase, King Gnu, Kenshi Yonezu, Creepy Nuts, hingga Hikaru Utada juga terus mendapatkan perhatian dari pendengar di luar Jepang.
Fenomena tersebut menunjukkan perubahan besar dalam industri musik. Bahasa tidak lagi menjadi penghalang utama bagi sebuah lagu untuk mendunia. Sebaliknya, media sosial, anime, film, layanan streaming, dan budaya internet telah membuka jalan baru bagi musik Jepang.
“Tokyo Drift” Kembali Menggila Setelah Dua Dekade
Bagi penggemar film pada era 2000-an, “TOKYO DRIFT” mungkin langsung membangkitkan nostalgia. Suara pembukanya sangat identik dengan mobil modifikasi, lampu neon, jalanan Tokyo, dan aksi balapan dalam The Fast and the Furious: Tokyo Drift.
TERIYAKI BOYZ memperkenalkan lagu tersebut pada 2006. Saat itu, popularitas film ikut membawa “TOKYO DRIFT” kepada pendengar internasional.
Namun, perjalanan lagunya ternyata tidak berhenti setelah film tersebut meninggalkan bioskop.
Dua dekade kemudian, “TOKYO DRIFT” justru mendapatkan momentum baru. Billboard Japan mencatat lagu tersebut kembali menduduki puncak Global Japan Songs Excl. Japan pada periode penghitungan 26 Juni hingga 2 Juli 2026.
Pada periode itu, jumlah streaming audio dan video gabungannya mencapai sekitar 3,05 juta kali. Pencapaian tersebut membawa “TOKYO DRIFT” kembali menjadi nomor satu setelah sekitar satu tahun.
Selain itu, lagu tersebut telah mengoleksi posisi puncak untuk kelima kalinya.
Kebangkitan ini tentu memiliki beberapa faktor. Tahun 2026 menandai dua dekade sejak film Tokyo Drift pertama kali dirilis. Karena itu, nostalgia terhadap film tersebut kembali meningkat.
Di sisi lain, budaya internet ikut memberikan kehidupan baru kepada lagunya. Potongan video, meme, edit mobil, hingga konten media sosial terus menggunakan musik “TOKYO DRIFT”.
Hasilnya cukup menarik. Generasi lama kembali mendengarkan lagu tersebut karena nostalgia. Sementara itu, generasi muda justru mengenalnya melalui TikTok, Instagram, atau YouTube.
Indonesia Ikut Menggemari Musik Jepang
Fenomena lagu Jepang mendunia juga terasa di Indonesia.
Dalam salah satu pembaruan Japan Songs untuk Indonesia, “TOKYO DRIFT” berhasil menempati posisi pertama. Akan tetapi, daftar lagu di bawahnya justru memperlihatkan keragaman selera pendengar Indonesia.
Fujii Kaze berada di jajaran atas melalui “Shinunoga E-Wa”. Sementara itu, YOASOBI tetap mendapatkan perhatian melalui lagu seperti “Yoru ni Kakeru”.
Musisi Jepang dari generasi berbeda juga ikut muncul dalam persaingan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendengar Indonesia tidak hanya tertarik pada satu jenis musik Jepang.
Sebagian pendengar mungkin mengenal J-pop melalui anime. Namun, kelompok lainnya menemukan musik Jepang melalui TikTok, film, game, atau rekomendasi platform streaming.
Menariknya, lagu lama juga masih memiliki tempat yang kuat.
Dengan demikian, popularitas musik Jepang di Indonesia tidak hanya bergantung pada tren terbaru. Katalog musik dari berbagai generasi dapat menemukan pendengarnya sendiri.
Fujii Kaze Membuktikan Bahasa Bukan Penghalang
Jika “TOKYO DRIFT” menjadi contoh kebangkitan lagu lama, Fujii Kaze menunjukkan kekuatan generasi baru musisi Jepang.
Salah satu karya yang paling menonjol tentu saja “Shinunoga E-Wa”.
Lagu tersebut berhasil berkembang jauh melampaui pasar Jepang. Bahkan setelah beberapa tahun berlalu sejak perilisan awalnya, “Shinunoga E-Wa” masih menarik perhatian pendengar internasional.
Popularitasnya juga terasa kuat di Asia Tenggara.
Di Malaysia, misalnya, “Shinunoga E-Wa” mampu menduduki posisi teratas dalam salah satu pembaruan Japan Songs. Pencapaian tersebut menunjukkan besarnya daya tarik Fujii Kaze di luar negara asalnya.
Menariknya, Fujii Kaze tidak perlu menghilangkan karakter Jepang dari musiknya.
Ia tetap menggunakan bahasa Jepang dan mempertahankan identitas musikal yang kuat. Meskipun demikian, pendengar dari negara lain tetap dapat menikmati lagunya.
Hal tersebut memperlihatkan satu perubahan penting. Pendengar modern tidak selalu membutuhkan pemahaman penuh terhadap lirik untuk menikmati sebuah lagu.
Melodi, karakter vokal, produksi musik, dan emosi dapat menjadi pintu masuk pertama. Setelah menyukai lagunya, pendengar kemudian dapat mencari terjemahan lirik untuk memahami maknanya.
YOASOBI Tetap Menjadi Wajah J-pop Global
Selain Fujii Kaze, YOASOBI juga memiliki peran besar dalam perkembangan J-pop internasional.
Duo yang terdiri dari Ayase dan ikura tersebut telah menghasilkan berbagai lagu populer. Beberapa karya mereka bahkan mampu bertahan dalam percakapan musik global selama bertahun-tahun.
Salah satunya adalah “Yoru ni Kakeru”.
Lagu tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan YOASOBI. Selain sukses di Jepang, popularitasnya kemudian meluas ke berbagai negara.
Setelah itu, “Idol” membawa nama YOASOBI menuju tingkat yang lebih tinggi. Hubungannya dengan anime Oshi no Ko membantu lagu tersebut menjangkau audiens yang sangat luas.
Namun, anime bukan satu-satunya alasan YOASOBI bertahan.
Karakter produksi Ayase dan vokal ikura membuat musik mereka mudah dikenali. Selain itu, konsep cerita yang menjadi dasar berbagai lagu YOASOBI memberikan identitas tersendiri.
Akibatnya, pendengar yang awalnya mengenal YOASOBI melalui anime dapat tertarik menjelajahi katalog mereka.
Strategi tersebut secara tidak langsung memperpanjang umur sebuah lagu.
Imase Menunjukkan Kekuatan Media Sosial
Media sosial juga memiliki peran besar dalam membuat lagu Jepang mendunia. Salah satu contoh terbaik datang dari imase melalui “NIGHT DANCER”.
Lagu tersebut memiliki karakter yang mudah dikenali. Beat yang santai berpadu dengan melodi yang ringan sehingga cocok digunakan dalam berbagai konten video pendek.
Kemudian, TikTok membantu “NIGHT DANCER” menjangkau pendengar dari berbagai negara.
Namun, popularitasnya tidak berhenti sebagai tren sesaat.
Pada Global Japan Songs Excl. Japan pada 2026, “NIGHT DANCER” masih mampu berada di jajaran atas bersama lagu seperti “TOKYO DRIFT” dan karya dari King Gnu.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi pintu masuk, bukan sekadar tempat munculnya tren sementara.
Jika lagunya mampu mempertahankan perhatian pendengar, popularitas dapat bertahan jauh lebih lama daripada tren awalnya.
Lagu Jepang Lama Menemukan Generasi Baru
“Tokyo Drift” bukan satu-satunya lagu lama Jepang yang mendapatkan kehidupan kedua.
Sebelumnya, “Mayonaka no Door – Stay With Me” milik Miki Matsubara juga mengalami kebangkitan besar. Lagu tersebut pertama kali hadir pada akhir 1970-an.
Puluhan tahun kemudian, generasi baru justru menemukannya melalui internet.
Selain itu, “First Love” milik Hikaru Utada tetap memiliki tempat khusus bagi banyak pendengar Asia. Lagu tersebut terus muncul dalam percakapan mengenai karya Jepang yang mampu bertahan lintas generasi.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat menemukan musik.
Pada masa lalu, radio dan televisi memiliki pengaruh sangat besar. Label rekaman juga harus bekerja keras untuk membawa sebuah lagu menuju pasar internasional.
Sekarang kondisinya berbeda.
Layanan streaming menyediakan katalog musik dari berbagai dekade. Sementara itu, algoritma dapat memperkenalkan lagu lama kepada seseorang yang sebelumnya tidak pernah mengenal artis tersebut.
Media sosial kemudian mempercepat prosesnya.
Akibatnya, usia lagu menjadi semakin tidak relevan. Sebuah karya dari 1970-an bahkan dapat bersaing mendapatkan perhatian dengan lagu yang baru dirilis beberapa minggu lalu.
Anime Tetap Menjadi Pintu Besar J-pop
Meskipun media sosial semakin berpengaruh, anime tetap menjadi salah satu pintu terbesar bagi musik Jepang menuju dunia.
Banyak pendengar internasional pertama kali mengenal musisi Jepang melalui lagu pembuka atau penutup sebuah anime.
KANA-BOON, misalnya, sangat dikenal oleh penggemar Naruto Shippuden melalui “Silhouette”. Lagu tersebut bahkan masih sering muncul dalam berbagai konten bertema anime.
Selain itu, Creepy Nuts mendapatkan perhatian global melalui “Bling-Bang-Bang-Born”. Hubungan antara lagu dan anime membantu mempercepat penyebarannya ke berbagai negara.
YOASOBI juga mendapatkan keuntungan serupa melalui “Idol”.
Namun, hubungan antara anime dan musik sebenarnya memberikan keuntungan dua arah.
Anime memperkenalkan musisi kepada audiens baru. Sebaliknya, lagu yang populer juga dapat membuat orang penasaran terhadap anime yang menggunakannya.
Karena itu, Jepang memiliki ekosistem hiburan yang sangat kuat untuk membawa musiknya menuju pasar internasional.
Selera Pendengar Setiap Negara Berbeda
Hal menarik lainnya terlihat ketika membandingkan popularitas musik Jepang di beberapa negara.
Tidak ada satu lagu yang selalu menjadi nomor satu di seluruh wilayah.
Pada periode tertentu, “TOKYO DRIFT” sangat kuat di Indonesia dan beberapa pasar lainnya. Sebaliknya, Fujii Kaze memiliki posisi yang sangat kuat di Malaysia.
Amerika Serikat juga menunjukkan pola berbeda. Dalam salah satu pembaruan pada Agustus 2026, karya King Gnu berada di posisi teratas, sedangkan “TOKYO DRIFT” mengikuti di bawahnya.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa musik Jepang memiliki banyak pintu menuju pasar global.
Sebagian orang menemukan J-pop melalui anime. Pendengar lainnya mengenalnya melalui TikTok atau YouTube.
Film seperti Tokyo Drift juga menjadi jalur tersendiri. Selain itu, city pop dan video game Jepang memiliki komunitas internasional yang sangat besar.
Pada akhirnya, semua jalur tersebut membantu membangun ekosistem pendengar musik Jepang di luar negara asalnya.
J-pop Tidak Harus Berbahasa Inggris untuk Mendunia
Selama bertahun-tahun, musisi dari negara non-Inggris sering menghadapi anggapan bahwa mereka harus menggunakan bahasa Inggris untuk menembus pasar global.
Perkembangan industri musik beberapa tahun terakhir mulai meruntuhkan pandangan tersebut.
Fujii Kaze tidak perlu mengubah “Shinunoga E-Wa” menjadi lagu berbahasa Inggris agar pendengar internasional menikmatinya.
Demikian pula dengan YOASOBI. Mereka tetap mempertahankan bahasa Jepang sebagai bagian penting dari identitas musiknya.
Sementara itu, “TOKYO DRIFT” membuktikan bahwa sebuah karya bahkan dapat mendapatkan gelombang popularitas baru setelah dua dekade berlalu.
Dengan kata lain, pendengar global semakin terbuka terhadap musik dari berbagai bahasa.
Kualitas lagu menjadi faktor yang jauh lebih penting. Selain itu, akses terhadap terjemahan membuat hambatan bahasa semakin kecil.
Dari “Tokyo Drift” hingga YOASOBI, Musik Jepang Terus Melaju
Kembalinya “TOKYO DRIFT” ke jajaran atas chart global menjadi gambaran menarik tentang kondisi musik Jepang pada 2026.
TERIYAKI BOYZ mendapatkan kehidupan kedua melalui nostalgia dan budaya internet. Di sisi lain, Fujii Kaze membangun hubungan dengan pendengar melalui karakter vokal dan musiknya.
YOASOBI membawa kekuatan cerita dan anime. Sementara itu, imase menunjukkan kemampuan media sosial dalam memperkenalkan lagu Jepang kepada dunia.
Lagu lama juga tidak kalah menarik. Karya dari Miki Matsubara hingga Hikaru Utada terus menemukan generasi pendengar baru.
Oleh karena itu, fenomena lagu Jepang mendunia tidak dapat dijelaskan melalui satu faktor saja.
Anime, film, TikTok, YouTube, layanan streaming, game, dan budaya Jepang secara keseluruhan memiliki perannya masing-masing.
Namun, semua jalur tersebut mengarah pada kesimpulan yang sama.
Musik Jepang tidak lagi hanya menunggu dunia datang menemukannya. Kini, musik Jepang sudah menjadi bagian dari apa yang didengarkan dunia.
“Tokyo Drift” menjadi bukti paling menarik. Dua puluh tahun setelah TERIYAKI BOYZ memperkenalkannya kepada dunia, lagu tersebut masih mampu menarik jutaan pendengar.
Bedanya, generasi sekarang mungkin tidak pertama kali mendengarnya dari bioskop.
Mereka menemukannya melalui layar ponsel, layanan streaming, video pendek, atau algoritma rekomendasi.
Dua dekade telah berlalu, tetapi “Tokyo Drift” masih melaju. Bersamanya, musik Jepang juga terus bergerak semakin jauh menuju panggung global.