Hubungan The Who dan Zak Starkey kembali memasuki babak yang tidak terduga. Lebih dari setahun setelah drummer tersebut dipecat, direkrut kembali, lalu kembali dikeluarkan dalam rentang waktu yang sangat singkat, Starkey kini diketahui sudah kembali berlatih bersama Roger Daltrey dan Pete Townshend. Reuni tersebut terjadi ketika The Who sedang mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan The Song Is Over Farewell Tour ke Eropa dan beberapa wilayah lain. Daltrey mengungkapkan bahwa latihan terbaru bersama Starkey berjalan sangat baik, sementara sang drummer secara terbuka mengatakan dirinya senang kembali memainkan musik The Who. Meski belum ada pengumuman formal mengenai kontrak atau jadwal tur baru, perkembangan ini semakin menguatkan dugaan bahwa Zak Starkey kembali menjadi bagian dari The Who.

Zak Starkey Kembali Berlatih Bersama The Who

Kabar Zak Starkey kembali ke The Who pertama kali menguat setelah Roger Daltrey berbicara dalam konser solonya di Encore Theater, Las Vegas, pada 26 Agustus 2026. Di depan penonton, Daltrey mengatakan The Who baru saja melakukan latihan untuk melihat apakah mereka masih memungkinkan menggelar beberapa pertunjukan di Eropa. Menariknya, sosok yang kembali duduk di belakang drum dalam latihan tersebut adalah Starkey. Daltrey menggambarkan hasilnya secara sederhana dengan mengatakan bahwa permainan mereka terdengar sangat bagus. Pernyataan itu langsung menarik perhatian karena hubungan Starkey dan The Who sempat terlihat benar-benar berakhir pada 2025.

Tak lama kemudian, Starkey sendiri memperkuat kabar tersebut melalui media sosial. Ia membagikan laporan mengenai komentar Daltrey dan menyatakan tidak sabar kembali bermain bersama The Who. Menurut Starkey, sesi latihan berlangsung jauh lebih serius daripada biasanya. Ia bahkan bercanda bahwa The Who biasanya lebih banyak minum teh dan membicarakan kapan mereka akan pulang dibandingkan menjalani latihan sekeras itu. Namun, kali ini mereka benar-benar bekerja intens. Dalam pernyataan lain kepada Rolling Stone, Starkey juga menyebut band berada dalam kondisi sangat bagus selama latihan dan mengatakan rasanya menyenangkan bisa kembali memainkan musik yang ia cintai bersama orang-orang yang sudah lama dekat dengannya.

Perkembangan tersebut memang belum disertai pengumuman resmi berbentuk “Zak Starkey kembali menjadi drummer permanen The Who”. Meski demikian, pilihan kata Starkey memperlihatkan bahwa rekonsiliasi sudah terjadi. Ia bahkan menggambarkan pengalaman tersebut sebagai perasaan “kembali ke rumah”. Karena itu, kemungkinan dirinya kembali mengisi posisi drummer The Who dalam pertunjukan mendatang terlihat semakin besar.

Hubungan Mereka Sempat Pecah Setelah Konser Royal Albert Hall

Situasinya terasa mengejutkan karena konflik pada 2025 berlangsung cukup terbuka. Starkey memainkan pertunjukan terakhirnya bersama The Who pada 30 Maret 2025 dalam konser Teenage Cancer Trust di Royal Albert Hall, London. Malam tersebut seharusnya menjadi salah satu pertunjukan istimewa karena The Who membawakan “The Song Is Over” secara live untuk pertama kalinya. Namun, penampilan itu mengalami sejumlah masalah teknis dan komunikasi di atas panggung. Setelah pertunjukan, Daltrey sempat mengeluhkan kesulitan mendengar akibat suara drum yang terlalu keras.

Beberapa minggu kemudian, muncul kabar bahwa Starkey tidak lagi menjadi bagian dari The Who. Namun, drama tersebut belum selesai. Hanya beberapa hari setelah pemecatan pertama, Pete Townshend mengumumkan bahwa Starkey kembali bergabung. Situasi kemudian berubah lagi sekitar dua minggu kemudian ketika The Who kembali berpisah dengannya. Proses keluar-masuk tersebut membuat hubungan internal band menjadi salah satu cerita rock paling aneh sepanjang 2025.

Starkey sendiri memiliki versi berbeda mengenai apa yang terjadi di Royal Albert Hall. Ia mengatakan bahwa masalah pada salah satu lagu bukan karena dirinya memainkan drum terlalu keras. Menurutnya, Daltrey masuk terlalu cepat dalam struktur lagu setelah kehilangan posisi. Starkey juga menegaskan tidak terjadi pertengkaran besar di belakang panggung malam itu. Ia bahkan sudah meninggalkan venue sebelum konser benar-benar selesai. Namun, beberapa minggu kemudian, kabar pemecatan akhirnya sampai kepadanya.

Meski situasinya panas, Starkey tidak sepenuhnya memutus hubungan dengan Daltrey dan Townshend. Bahkan ketika berbicara mengenai pemecatan tersebut pada 2025, ia mengatakan masih rutin berkomunikasi dengan keduanya. Karena itu, jalan menuju rekonsiliasi sebenarnya tidak pernah benar-benar tertutup.

Dari Dipecat, Direkrut Lagi, Hingga Dipecat untuk Kedua Kalinya

Drama antara The Who dan Zak Starkey menjadi semakin rumit karena keputusan band berubah dengan sangat cepat. Setelah pemecatan pertama, Townshend sempat mengumumkan bahwa komunikasi internal sudah diperbaiki. Starkey disebut akan tetap bersama The Who dan persoalan dianggap selesai. Namun, kurang dari sebulan kemudian, keputusan tersebut kembali berubah. Townshend kemudian mengatakan bahwa The Who akan melanjutkan perjalanan dengan drummer lain.

Posisi Starkey akhirnya digantikan Scott Devours, drummer yang sebelumnya sudah lama bekerja dalam proyek solo Roger Daltrey. Devours kemudian mendampingi The Who selama rangkaian konser perpisahan Amerika Utara pada 2025. Menariknya, Devours juga berada di atas panggung bersama Daltrey dalam konser solo Las Vegas ketika sang vokalis mengungkapkan bahwa The Who baru saja berlatih lagi bersama Starkey.

Dalam sejumlah wawancara setelah pemecatannya, Starkey tidak berusaha menyembunyikan kebingungannya. Namun, ia juga tidak sepenuhnya menyalahkan Daltrey atau Townshend. Ia justru menggambarkan The Who sebagai band yang sejak awal hidup melalui benturan kepribadian. Menurutnya, konflik, perubahan keputusan, dan ketidakpastian merupakan bagian dari karakter grup tersebut sejak puluhan tahun lalu.

Pandangan itu cukup masuk akal jika melihat sejarah The Who. Bahkan pada formasi klasik yang terdiri dari Roger Daltrey, Pete Townshend, John Entwistle, dan Keith Moon, hubungan internal band terkenal jauh dari tenang. Pertengkaran, perbedaan visi, hingga konflik pribadi selalu menjadi bagian dari cerita mereka. Karena itu, Starkey tampaknya tidak pernah melihat pemecatannya sebagai pintu yang benar-benar tertutup.

Zak Starkey Sudah Bersama The Who Sejak 1996

Alasan reuni ini terasa penting juga berkaitan dengan sejarah panjang Starkey bersama The Who. Putra drummer The Beatles, Ringo Starr, tersebut mulai bermain secara reguler bersama band pada 1996. Selama hampir tiga dekade berikutnya, ia menjadi drummer utama The Who dalam konser dan berbagai proyek besar. Meski tidak selalu dianggap sebagai anggota resmi dalam pengertian tradisional, perannya sangat dekat dengan identitas live The Who modern.

Hubungan Starkey dengan musik The Who bahkan sudah dimulai jauh sebelum ia bergabung. Keith Moon merupakan teman dekat keluarganya dan menjadi salah satu pengaruh besar dalam perkembangan Starkey sebagai drummer. Moon bahkan pernah memberikan satu set drum kepada Starkey ketika masih muda. Karena itu, ketika akhirnya bergabung dengan The Who, Starkey membawa hubungan personal yang cukup unik dengan sejarah band.

Namun, gaya bermainnya tidak sekadar meniru Keith Moon. Starkey mengembangkan pendekatan sendiri yang mampu mempertahankan energi eksplosif lagu-lagu klasik The Who tanpa kehilangan kontrol dalam pertunjukan modern. Hal tersebut membuat dirinya menjadi bagian penting ketika Daltrey dan Townshend membawa katalog seperti “Baba O’Riley”, “Won’t Get Fooled Again”, “Who Are You”, dan “My Generation” ke generasi penonton baru.

Selain The Who, Starkey juga pernah memiliki perjalanan penting bersama Oasis. Ia bermain dengan band tersebut antara 2004 hingga 2008 dan terlibat dalam era Don’t Believe the Truth serta Dig Out Your Soul. Menariknya, Starkey mengungkapkan bahwa kemungkinan bergabung dalam reuni Oasis sempat dibicarakan sebelum tur 2025. Namun, saat itu ia masih menganggap dirinya terikat dengan The Who. Situasi tersebut terasa ironis karena tidak lama kemudian ia justru dikeluarkan dari band.

The Who Ternyata Belum Benar-Benar Mengakhiri Tur

Kemungkinan kembalinya Starkey juga membuka pertanyaan lebih besar mengenai masa depan The Who. Pada 2025, band menjalankan The Song Is Over Farewell Tour di Amerika Utara dan menyebutnya sebagai rangkaian perpisahan. Pertunjukan terakhir bagian Amerika berlangsung pada Oktober 2025. Namun, Roger Daltrey kini menegaskan bahwa berakhirnya tur Amerika bukan berarti The Who benar-benar selesai.

Menurut Daltrey, band masih ingin mengucapkan selamat tinggal kepada penggemar di Eropa dan beberapa negara lain yang memiliki hubungan panjang dengan perjalanan mereka. Karena itu, latihan terbaru dilakukan untuk melihat apakah mereka secara musikal masih siap kembali ke panggung. Hasilnya ternyata membuat Daltrey optimistis. Ia mengatakan band terdengar sangat bagus dan menegaskan bahwa perjalanan The Who belum sepenuhnya selesai.

Pernyataan tersebut sejalan dengan komentar Pete Townshend sebelumnya. Sang gitaris beberapa kali memberikan sinyal bahwa The Who masih mempertimbangkan sesuatu yang spesial meskipun tur Amerika sudah selesai. Namun, hingga sekarang belum ada jadwal resmi untuk rangkaian Eropa. Karena itu, latihan bersama Starkey kemungkinan menjadi bagian dari tahap awal sebelum keputusan mengenai konser berikutnya dibuat.

Jika tur Eropa benar-benar terjadi, kembalinya Starkey akan memberikan nuansa berbeda. Ia memainkan musik The Who selama sekitar 29 tahun sebelum konflik 2025. Dengan pengalaman tersebut, band tidak membutuhkan proses adaptasi panjang. Daltrey bahkan sudah memberikan indikasi bahwa chemistry lama mereka langsung kembali ketika latihan dimulai.

Rekonsiliasi Bisa Jadi Babak Terakhir yang Tepat untuk The Who

Bagi The Who, reuni dengan Zak Starkey dapat menjadi cara yang jauh lebih baik untuk menutup perjalanan panjang mereka dibandingkan membiarkan hubungan berakhir melalui konflik publik. Starkey sudah menghabiskan hampir tiga dekade memainkan katalog band dan menjadi bagian penting dari era modern mereka. Karena itu, jika The Who memang sedang mempersiapkan pertunjukan terakhir di Eropa dan wilayah lain, kehadirannya memiliki nilai emosional tersendiri.

Selain itu, komentar Starkey menunjukkan bahwa konflik sebelumnya tampaknya sudah mereda. Ia tidak berbicara seperti seseorang yang sekadar datang sebagai musisi sesi untuk satu latihan. Sebaliknya, ia secara terbuka mengatakan ingin kembali memainkan musik The Who dan menggambarkan perasaannya sebagai kembali ke rumah. Daltrey juga terlihat tidak memiliki masalah untuk mengakui bahwa permainan Starkey terdengar sangat bagus.

Namun, sejarah The Who mengajarkan satu hal: keputusan mereka dapat berubah dengan cepat. Starkey sendiri sebelumnya sudah dipecat, diterima kembali, lalu kembali dikeluarkan dalam hitungan minggu. Oleh karena itu, status resminya mungkin baru benar-benar jelas ketika The Who mengumumkan jadwal konser berikutnya beserta formasi yang akan tampil.

Untuk sementara, tanda-tandanya sangat positif. Zak Starkey kembali berlatih bersama The Who, Roger Daltrey ingin membawa band kembali ke Eropa, dan Pete Townshend sebelumnya juga memberi sinyal bahwa perjalanan mereka belum selesai. Setelah perpisahan yang sempat berubah menjadi drama publik, tiga musisi tersebut kini setidaknya kembali berada dalam satu ruangan dan memainkan lagu yang sama.

Jika The Song Is Over memang akan menjadi tur perpisahan terakhir The Who, reuni tersebut terasa hampir seperti akhir cerita yang dibuat khusus untuk band ini. The Who tidak pernah dikenal sebagai grup yang berjalan dengan tenang. Bahkan setelah lebih dari enam dekade, konflik, rekonsiliasi, dan ketidakpastian masih mengikuti mereka. Kini, Zak Starkey mungkin kembali berada di belakang drum untuk satu perjalanan terakhir—meski dengan The Who, hampir tidak ada yang benar-benar bisa disebut pasti sampai mereka naik ke panggung.