
Royal Blood bersiap kembali dengan energi yang jauh lebih brutal setelah hampir dua tahun menjauh dari sorotan. Duo rock Inggris yang terdiri dari Mike Kerr dan Ben Thatcher akan merilis album studio kelima bertajuk Dead Company pada 13 November 2026 melalui Warner Records. Album tersebut menjadi penerus Back To The Water Below yang dirilis pada 2023 sekaligus menandai kembalinya Royal Blood setelah mengambil jeda panjang dari aktivitas band. Menariknya, Kerr menggambarkan album baru ini sebagai karya yang “pretty relentless” atau sangat tanpa henti. Royal Blood memang sengaja membuat album yang hampir tidak memberikan ruang bernapas kepada pendengar. Setiap lagu juga dirancang dengan panggung sebagai pertimbangan utama, sehingga Dead Company tampaknya akan membawa mereka kembali menuju karakter mentah dan berat yang membangun nama Royal Blood sejak awal.
Dead Company Dibuat Tanpa Memberikan Ruang Bernapas
Mike Kerr memberikan gambaran lebih jelas mengenai album Dead Company Royal Blood setelah band memainkan secret set di Reading Festival 2026. Menurut Kerr, tujuan utama mereka cukup sederhana: membuat sebuah album yang energinya tidak pernah benar-benar turun. Ia bahkan bercanda bahwa dirinya menghargai siapa pun yang mampu bertahan mendengarkan sampai akhir karena album tersebut terasa brutal dan hampir tidak menyediakan ruang bernapas. Pendekatan itu berbeda dari keinginan untuk membuat album dengan dinamika naik-turun yang jelas. Sebaliknya, Royal Blood ingin mempertahankan tekanan dari awal hingga akhir.
Selain itu, Kerr dan Thatcher membayangkan bagaimana setiap lagu akan terdengar ketika dimainkan bersama di atas panggung. Bagi mereka, pertunjukan live tetap menjadi alasan utama berada dalam sebuah band. Karena itu, proses penulisan Dead Company tidak hanya mempertimbangkan bagaimana lagu terdengar melalui rekaman studio. Mereka juga memastikan materi tersebut terasa menyenangkan dan kuat ketika dimainkan hanya dengan bass, drum, vokal, serta berbagai efek yang selama ini menjadi fondasi Royal Blood. Hasilnya adalah album yang menurut mereka memiliki karakter lebih langsung, kasar, dan tidak terlalu dipoles.
Ben Thatcher melihat energi album baru tersebut memiliki hubungan dengan album debut Royal Blood pada 2014. Namun, mereka sekarang membawa pengalaman membuat empat album sebelumnya. Perpaduan antara spontanitas awal dan pengalaman selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu fondasi Dead Company. Jika album pertama lahir dari dua musisi yang masih mencari tahu seberapa jauh mereka dapat mendorong format bass dan drum, album kelima datang setelah mereka mengetahui berbagai kemungkinan dari format tersebut dan sengaja kembali menuju kesederhanaannya.
Royal Blood Kembali Bersama Setelah Hampir Dua Tahun
Proses menuju Dead Company dimulai setelah Royal Blood mengambil jeda panjang. Penampilan mereka di Pukkelpop, Belgia, pada 18 Agustus 2024 menjadi salah satu aktivitas besar terakhir sebelum Kerr dan Thatcher menghilang dari sorotan. Mereka kemudian menghabiskan waktu jauh dari siklus album dan tur yang sudah berlangsung selama sekitar satu dekade. Bagi kedua personel, jeda tersebut memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan di luar Royal Blood dan mendapatkan kembali keinginan untuk memainkan musik berat.
Ketika kembali memasuki studio pada 2025, Royal Blood tidak membawa tenggat waktu atau tekanan untuk segera menyelesaikan album. Mereka hanya memiliki satu pertanyaan mengenai seberapa jauh dua orang, 12 nada, dan kemungkinan yang hampir tidak terbatas dapat membawa musik mereka. Dari situ, Kerr dan Thatcher kembali bermain bersama dalam satu ruangan. Pendekatan tersebut terasa penting karena beberapa proyek sebelumnya melibatkan proses produksi dan eksperimen yang semakin kompleks. Kali ini, mereka ingin menangkap interaksi langsung yang terjadi ketika dua musisi bermain tanpa terlalu banyak lapisan tambahan.
Royal Blood bahkan menggambarkan prosesnya lebih dekat dengan konsep “anti-produced”. Mereka memproduksi album sendiri, tetapi sengaja menghindari keinginan membuat semuanya terlalu sempurna. Kesalahan kecil, energi spontan, dan karakter manusia justru menjadi bagian penting dari rekaman. Karena itu, Dead Company dibuat sebagai album yang raw dan visceral. Setelah beberapa tahun mengeksplorasi sisi berbeda dari musik mereka, Kerr dan Thatcher tampaknya kembali menemukan kesenangan melalui sesuatu yang paling sederhana: berada di ruangan yang sama dan memainkan musik rock sekeras mungkin.
“Ten Over Ten” Buka Era Baru Royal Blood
Royal Blood memperkenalkan Dead Company melalui single “Ten Over Ten”. Lagu tersebut langsung menunjukkan arah berat yang mereka bicarakan. Elemen desert rock bertemu dengan energi yang mengingatkan pada Motörhead, sementara riff bass Kerr kembali menjadi pusat suara. Menariknya, inspirasi lagu tersebut datang dari pengalaman Kerr ketika berlatih untuk mengikuti maraton. Dari sana muncul gagasan mengenai daya tahan, mendorong tubuh melewati batas, dan tetap bergerak ketika situasi mulai terasa berat. Tema tersebut akhirnya sesuai dengan pendekatan keseluruhan album yang hampir tidak memberikan kesempatan untuk berhenti.
Namun, “Ten Over Ten” bukan lagu pertama yang mereka tulis untuk proyek tersebut. Lagu “Swallow The Bomb” menjadi salah satu titik awal yang menentukan arah album. Kerr menjelaskan bahwa materi itu bergerak sangat cepat dan berat. Ketika selesai memainkannya, mereka menyadari bahwa energi tersebut terasa segar setelah cukup lama tidak membuat musik seperti itu. Dari sana, Royal Blood semakin tertarik kembali memainkan musik berat dan membangun album berdasarkan perasaan tersebut.
Dead Company nantinya berisi sepuluh lagu. Selain title track, “Swallow The Bomb”, dan “Ten Over Ten”, daftar lagu mencakup “Mother Never Told You”, “Nowhere All Along”, “Ride”, “Rear View Mirror”, “Take ’Em All”, “Tapping Out”, dan “The Closer”. Jumlah sepuluh lagu membuat proyek tersebut terlihat cukup ringkas. Namun, melihat penjelasan Kerr mengenai intensitas album, Royal Blood tampaknya lebih tertarik membuat pengalaman yang padat daripada memperpanjang durasi dengan materi tambahan.
Energi Album Debut Bertemu Pengalaman Empat Album
Kembalinya Royal Blood menuju suara yang lebih mentah bukan berarti mereka mencoba membuat ulang album debut. Thatcher justru melihat Dead Company sebagai kombinasi antara kegembiraan album pertama dan pengalaman yang diperoleh setelah membuat empat album. Ketika Royal Blood baru terbentuk, Kerr dan Thatcher banyak melakukan jam session untuk mendapatkan cukup materi agar dapat tampil live. Cara kerja sederhana tersebut kemudian berkembang seiring kesuksesan band. Namun, setelah satu dekade bereksperimen, mereka menemukan alasan untuk kembali kepada metode awal itu.
Perjalanan tersebut memang membawa Royal Blood melalui beberapa fase berbeda. Album debut Royal Blood pada 2014 memperkenalkan formula bass dan drum yang terdengar jauh lebih besar daripada jumlah personelnya. Lagu seperti “Out of the Black”, “Figure It Out”, dan “Little Monster” membuat mereka dengan cepat menjadi salah satu nama rock Inggris yang paling banyak diperhatikan. Kemudian, How Did We Get So Dark? mempertahankan fondasi tersebut sebelum Typhoons pada 2021 membawa groove, dance-rock, dan produksi yang lebih berkilau.
Selanjutnya, Back To The Water Below pada 2023 kembali memperluas pendekatan mereka. Royal Blood mencoba beberapa suasana berbeda tanpa meninggalkan karakter riff berat yang sudah melekat pada band. Namun, setelah tur album tersebut dan perayaan sepuluh tahun debut mereka, Kerr dan Thatcher akhirnya merasa membutuhkan jarak. Jeda hampir dua tahun kemudian memberikan efek yang tidak mereka perkirakan. Ketika kembali bermain, musik cepat dan berat justru terasa baru lagi.
Karena itu, Dead Company tidak terdengar seperti keputusan yang dibuat karena tekanan untuk kembali ke “suara lama”. Royal Blood justru sampai ke titik tersebut setelah mencoba berbagai arah. Mereka sekarang mengetahui bagaimana membuat produksi yang lebih kompleks, tetapi memilih menghilangkan sebagian lapisan itu. Dengan pengalaman tersebut, kesederhanaan menjadi keputusan kreatif daripada keterbatasan.
Secret Set Reading Festival Tandai Kembalinya Royal Blood
Royal Blood memperlihatkan energi baru mereka melalui sebuah secret set di Gallery Stage pada Reading Festival 2026. Meskipun tampil pada sore hari dan tidak berada di panggung utama, pertunjukan tersebut menarik kerumunan besar. Bagi Kerr dan Thatcher, Reading memiliki sejarah tersendiri. Mereka pertama kali tampil di festival itu pada 2014 ketika masih terbiasa memainkan venue berkapasitas sekitar 100 orang. Tiba-tiba, mereka harus menghadapi ribuan penonton di NME/Radio 1 Stage. Kerr mengingat pengalaman tersebut sebagai semacam ujian besar yang sekaligus sangat menyenangkan.
Dua belas tahun kemudian, mereka kembali dalam situasi yang berbeda. Royal Blood sekarang sudah memiliki empat album, tur arena, festival besar, serta pengalaman tampil bersama nama seperti Foo Fighters dan Queens of the Stone Age. Namun, secret set memberikan sedikit rasa dari periode awal tersebut. Kerr mengatakan mereka sudah memainkan sejumlah pertunjukan kecil untuk menghilangkan rasa kaku setelah hampir dua tahun tidak aktif. Ketika akhirnya sampai di Reading, ia merasa band benar-benar sudah kembali.
Pendekatan tersebut sesuai dengan Dead Company. Royal Blood ingin materi baru terasa hidup sebelum semuanya berkembang menjadi pertunjukan besar. Karena itu, mereka memilih beberapa konser kecil sebagai persiapan. Ada risiko alat rusak atau sesuatu tidak berjalan sempurna, tetapi ketidakpastian tersebut justru menjadi bagian dari daya tarik musik live bagi mereka. Album baru kemudian mencoba membawa sensasi serupa ke dalam rekaman studio.
Dead Company Akan Dibawa ke Tur Inggris dan Irlandia
Setelah album dirilis pada 13 November, Royal Blood tidak akan menunggu lama untuk membawanya ke panggung. Mereka sudah mengumumkan rangkaian tur Inggris dan Irlandia pada akhir 2026 dengan unpeople sebagai pendukung. Tur dimulai di The Prospect Building, Bristol, pada 24 November sebelum berlanjut ke Newcastle, Manchester, Glasgow, Wolverhampton, London, dan akhirnya kampung halaman mereka di Brighton.
Konser London akan berlangsung di Olympia The Grand Hall pada 3 Desember, sedangkan pertunjukan penutup dijadwalkan di Brighton Centre pada 4 Desember. Royal Blood mengatakan rangkaian tersebut akan membawa lagu-lagu lama sekaligus materi segar dari Dead Company. Karena album memang ditulis dengan panggung sebagai pertimbangan utama, tur tersebut akan menjadi ujian langsung terhadap konsep yang mereka bangun selama proses rekaman.
Pada akhirnya, album Dead Company Royal Blood menandai kembalinya dua musisi yang sempat membutuhkan jarak dari kehidupan band. Jeda itu justru membuat Mike Kerr dan Ben Thatcher kembali menikmati alasan awal mereka membuat Royal Blood: bermain bersama dalam satu ruangan dan menghasilkan suara sebesar mungkin hanya dengan dua orang.
Jika deskripsi “pretty relentless” dari Kerr benar-benar menggambarkan keseluruhan album, Dead Company kemungkinan tidak akan menjadi rilisan Royal Blood yang paling tenang atau paling mudah. Justru itulah tujuannya. Sepuluh lagu dirancang untuk bergerak cepat, berat, dan hampir tanpa jeda. Setelah Typhoons mengeksplorasi groove dan Back To The Water Below memperluas sisi musikal mereka, Royal Blood sekarang memilih kembali menuju sesuatu yang lebih primal.
Namun, mereka kembali dengan pengalaman lebih dari satu dekade di belakangnya. Dead Company bukan sekadar nostalgia terhadap 2014. Album ini mencoba mengambil kegembiraan, spontanitas, dan kebrutalan periode tersebut lalu menggabungkannya dengan kemampuan yang mereka bangun melalui empat album sebelumnya. Pada 13 November 2026, pendengar akhirnya dapat mengetahui apakah Royal Blood benar-benar berhasil membuat album yang tidak pernah melepaskan pedal gas.