Radio Free Alice resmi mengumumkan album debut mereka, What’s In Between. Album tersebut akan hadir pada 30 Oktober 2026 melalui Atlantic Records. Bersamaan dengan pengumuman itu, band asal Melbourne tersebut juga memperkenalkan single terbaru “Crying With You”.
Selain itu, What’s In Between akan membawa 11 lagu dalam versi standar. Album ini menjadi langkah terbesar Radio Free Alice setelah mereka membangun nama melalui single, konser, dan festival. Kini, mereka bersiap membawa musiknya kepada pendengar yang lebih luas.

What’s In Between Jadi Album Pertama Radio Free Alice

Radio Free Alice sudah merilis musik selama beberapa tahun terakhir. Namun, What’s In Between menjadi album penuh pertama mereka. Proyek tersebut akan menyatukan materi lama dan lagu baru dalam satu perjalanan yang lebih lengkap.
Sementara itu, “Crying With You” mendapat posisi sebagai lagu pembuka. Setelahnya, “Undressed” dan “Rule 31” mengisi urutan kedua dan ketiga. Lagu utama “What’s In Between” kemudian muncul sebagai track keempat.
Selanjutnya, “Kick In The Shins” mengisi posisi kelima. “Big Ideas” yang menampilkan Rachel Brown berada setelahnya. Kemudian, “Lunch Money” menjadi lagu ketujuh dalam album.
Bagian akhir membawa sejumlah judul baru. “Bottleshops” berada di posisi kedelapan. Setelah itu, “Four Leaf Clover” dan “The Intersection” membawa album menuju bagian penutup. “Waiting” akhirnya menjadi lagu terakhir.

“Crying With You” Buka Era Baru

Radio Free Alice memilih “Crying With You” untuk mengiringi pengumuman album. Lagu tersebut membawa energi post-punk yang sudah menjadi bagian dari karakter mereka. Namun, proses penciptaannya berawal dari dua ide musik yang berbeda.
Band tersebut mengembangkan lagu ketika menjalani sesi penulisan di Joshua Tree, California. Selama berada di sana, mereka merekam sejumlah demo dan melakukan jam session. Dari proses itu, beberapa ide baru mulai terbentuk.
Pada awalnya, verse dan chorus “Crying With You” berasal dari dua komposisi berbeda. Kemudian, Radio Free Alice menemukan hubungan antara kedua bagian tersebut. Mereka akhirnya menggabungkannya menjadi satu lagu.
Selain itu, pendekatan seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi band. Mereka kerap menggabungkan beberapa gagasan ketika proses penulisan berlangsung. Karena itu, “Crying With You” tetap memiliki energi spontan meski berasal dari dua ide berbeda.

Single Lama Ikut Masuk dalam Album

Sebelum mengumumkan album, Radio Free Alice sudah memperkenalkan beberapa lagu. “Rule 31” menjadi salah satu materi yang hadir lebih awal. Selain itu, “Kick In The Shins” juga sudah diperkenalkan kepada pendengar.
Sementara itu, “Lunch Money” memiliki posisi penting dalam perjalanan mereka. Lagu tersebut menjadi rilisan debut Radio Free Alice bersama Atlantic Records. Setelah itu, jangkauan internasional mereka mulai berkembang semakin luas.
Beberapa single tersebut kini menjadi bagian dari What’s In Between. Namun, album masih menyimpan banyak materi yang belum dikenal pendengar. Karena itu, versi lengkapnya tetap menawarkan pengalaman baru.
Sebagai contoh, “Undressed”, “Bottleshops”, dan “Waiting” belum mendapatkan eksposur sebesar single sebelumnya. Lagu utama album juga menjadi salah satu materi yang menarik untuk ditunggu. Dengan demikian, album tidak hanya mengandalkan lagu yang sudah dirilis.

Album Diproduksi di Tiga Benua

Proses pembuatan What’s In Between membawa Radio Free Alice ke beberapa tempat. Album tersebut dikembangkan melalui proses produksi di tiga benua. Karena itu, proyek ini ikut merekam perkembangan perjalanan internasional mereka.
Peter Katis menjadi salah satu produser yang terlibat. Ia dikenal melalui pekerjaannya bersama Interpol dan The National. Selain itu, Ewan Pearson dan Finn Billingham juga mengambil bagian dalam proses produksi.
Keterlibatan beberapa produser memberi band ruang untuk memperluas musik mereka. Namun, karakter utama Radio Free Alice tetap dipertahankan. Gitar tajam, bass kuat, dan energi post-punk masih berada di pusat musik mereka.
Dengan demikian, album debut ini tidak meninggalkan identitas yang sudah dibangun. Sebaliknya, Radio Free Alice mencoba mengembangkan fondasi tersebut. Produksi yang lebih luas memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi pendekatan baru.

Radio Free Alice Berangkat dari Melbourne

Radio Free Alice tumbuh dari skena musik Melbourne, Australia. Kota tersebut dikenal memiliki lingkungan rock dan alternatif yang kuat. Meski demikian, band ini membangun karakter sendiri melalui pengaruh post-punk dan new wave.
Bassline yang mengingatkan pada musik era 1980-an menjadi salah satu cirinya. Selain itu, permainan gitar tajam memiliki peran besar dalam aransemen. Vokal Noah Learmonth kemudian memberi karakter tambahan pada musik mereka.
Pengaruh Joy Division dan The Smiths dapat terasa dalam beberapa bagian. Namun, Radio Free Alice tidak hanya menghidupkan kembali musik lama. Mereka membawa energi baru melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Sementara itu, pertunjukan live menjadi bagian penting dari identitas band. Radio Free Alice dikenal membawa energi besar ketika tampil. Karena itu, panggung membantu mereka memperkenalkan musik kepada lebih banyak pendengar.

Perjalanan Internasional Semakin Luas

Nama Radio Free Alice mulai berkembang di luar Australia. Pada 2025, mereka berhasil menjual habis enam pertunjukan utama di London. Setelah itu, aktivitas internasional mereka semakin meningkat.
Amerika Serikat kemudian menjadi salah satu tujuan penting. Radio Free Alice mendapatkan kesempatan tampil di Governors Ball, New York, pada 2026. Selain itu, mereka menggelar pertunjukan di Baby’s All Right.
Perjalanan festival mereka juga terus berkembang. Riot Fest di Chicago menjadi salah satu agenda besar. Sementara itu, Reading Festival ikut masuk dalam jadwal mereka.
Dengan demikian, album debut datang pada waktu yang tepat. Radio Free Alice sudah memiliki pendengar di beberapa negara sebelum album pertama mereka tersedia. Momentum tersebut menjadi modal penting bagi What’s In Between.

Konser Dadakan Tarik Ratusan Penggemar

Pada 19 Agustus 2026, Radio Free Alice membuat kejutan di London. Mereka menggelar pertunjukan pop-up gratis di Bermondsey, London Selatan. Sebelumnya, band hanya memberikan petunjuk mengenai lokasi melalui media sosial.
Namun, respons penggemar ternyata cukup besar. Lebih dari 500 orang berhasil menemukan lokasi pertunjukan. Mereka kemudian berkumpul untuk menyaksikan Radio Free Alice tampil dalam suasana sederhana.
Menariknya, pertunjukan tersebut berlangsung menjelang pengumuman album debut. Karena itu, konser dadakan menjadi pemanasan menuju era What’s In Between. Beberapa hari kemudian, band memperkenalkan album tersebut secara resmi.
Selain itu, konser tersebut menunjukkan hubungan Radio Free Alice dengan kultur pertunjukan kecil. Mereka memang mulai tampil di festival besar. Namun, pendekatan DIY masih menjadi bagian dari perjalanan band.

Album Fisik Juga Disiapkan

Radio Free Alice tidak hanya menyiapkan versi digital. What’s In Between juga akan tersedia dalam beberapa format fisik. Penggemar dapat memilih CD maupun vinyl.
Selain itu, terdapat edisi cream vinyl untuk pasar independen. Edisi tersebut menawarkan bonus track berjudul “Fire Warning”. Dengan demikian, versi tertentu memiliki materi tambahan di luar 11 lagu utama.
Pilihan format fisik menunjukkan perhatian band terhadap perilisan album pertama mereka. Vinyl juga masih memiliki tempat kuat dalam skena alternatif. Karena itu, format tersebut terasa sesuai dengan karakter Radio Free Alice.
Sementara itu, album standar tetap menjadi pusat proyek. Sebelas lagu akan memperkenalkan fase baru dalam perjalanan mereka. “Crying With You” menjadi pintu masuk menuju keseluruhan materi.

Tur Inggris dan Eropa Menyusul

Setelah album hadir, Radio Free Alice akan menjalani tur Inggris dan Eropa. Rangkaian tersebut dimulai di Copenhagen pada 4 November 2026. Artinya, tur dimulai hanya beberapa hari setelah perilisan album.
Setelah Copenhagen, band akan menuju Berlin, Hamburg, Cologne, Amsterdam, Brussels, dan Paris. Kemudian, perjalanan berlanjut menuju beberapa kota di Inggris.
Bristol dan Birmingham termasuk dalam jadwal tersebut. Selain itu, Radio Free Alice akan tampil di Electric Ballroom, London, pada 17 November. Leeds, Manchester, dan Glasgow juga masuk dalam rangkaian tur.
Setelah itu, perjalanan akan berlanjut menuju Belfast dan Dublin. Tur tersebut memberi band kesempatan memainkan materi album di hadapan penggemar. Karena itu, November akan menjadi periode penting bagi era What’s In Between.

Post-Punk Tetap Menjadi Fondasi

Radio Free Alice dikenal melalui energi post-punk yang kuat. Bass dan gitar sering bergerak cepat dalam lagu mereka. Namun, band tidak membatasi musik hanya pada satu pendekatan.
Pengaruh new wave juga muncul dalam beberapa rilisan. Selain itu, karakter indie rock modern memberi musik mereka sentuhan yang lebih segar. Perpaduan tersebut membantu Radio Free Alice membangun identitas sendiri.
Album debut memberi ruang lebih besar untuk mengembangkan karakter tersebut. Sebuah single hanya menunjukkan sebagian kecil dari kemampuan band. Sebaliknya, 11 lagu dapat menghadirkan perjalanan musik yang lebih lengkap.
Karena itu, What’s In Between menjadi ujian penting. Radio Free Alice perlu mempertahankan energi yang membuat mereka dikenal. Pada saat yang sama, mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan sisi baru.

Atlantic Records Buka Babak Baru

Kerja sama dengan Atlantic Records menjadi perubahan besar dalam perjalanan Radio Free Alice. Label tersebut memberikan jangkauan yang lebih luas. Selain itu, distribusi internasional membantu band memasuki pasar baru.
Namun, perkembangan itu tidak berarti mereka meninggalkan karakter awal. Radio Free Alice masih membawa pendekatan yang membuat mereka dikenal. Energi live dan pengaruh post-punk tetap menjadi fondasi utama.
Sementara itu, jadwal internasional mereka terus bertambah. Festival dan tur membawa band menuju pendengar yang sebelumnya sulit dijangkau. Album debut kemudian menjadi bagian penting dalam ekspansi tersebut.
Dengan demikian, What’s In Between bukan hanya proyek studio pertama. Album ini juga menandai perubahan skala dalam perjalanan Radio Free Alice. Mereka kini bergerak dari nama alternatif Australia menuju audiens global.

Langkah Terbesar Radio Free Alice

Album debut selalu menjadi momen penting bagi sebuah band. Single dapat membangun perhatian dalam waktu singkat. Namun, album penuh memberikan kesempatan untuk menunjukkan identitas secara lebih lengkap.
Radio Free Alice sudah memiliki fondasi sebelum memasuki fase ini. Mereka memiliki beberapa single, pengalaman tur, dan audiens internasional. Selain itu, pertunjukan festival membantu nama mereka berkembang.
Kini, semua momentum tersebut mengarah menuju What’s In Between. Album ini membawa 11 lagu dalam versi standar. Sementara itu, “Crying With You” menjadi lagu pertama yang membuka perjalanan tersebut.
Pada akhirnya, What’s In Between akan menjadi langkah terbesar Radio Free Alice sejauh ini. Album debut tersebut dijadwalkan rilis pada 30 Oktober 2026 melalui Atlantic Records. Setelah membangun nama dari Melbourne, Radio Free Alice kini bersiap memasuki babak internasional yang lebih besar.