
Lima tahun bukan waktu yang singkat dalam industri musik. Selama periode tersebut, tren berubah, musisi baru bermunculan, dan cara pendengar menemukan lagu juga terus berkembang. Namun, setelah cukup lama tidak menghadirkan album penuh, Ruth B. akhirnya kembali melalui Peace to Make.
Ruth B. Peace to Make resmi hadir pada 21 Agustus 2026. Proyek tersebut menjadi album studio ketiganya sekaligus album penuh pertama sejak Moments in Between yang dirilis pada 2021. Album ini berisi 12 lagu yang membawa pendengar melewati berbagai fase emosional, mulai dari patah hati hingga proses menerima diri sendiri.
Kembalinya Ruth tentu menarik perhatian. Terlebih, sebagian besar pendengar mengenalnya melalui lagu “Dandelions”, karya lama yang justru berkembang menjadi fenomena global beberapa tahun setelah dirilis.
Meski demikian, Peace to Make tidak dibuat untuk menciptakan “Dandelions” berikutnya. Sebaliknya, Ruth datang dengan cerita yang lebih dewasa dan personal.
Album ini berbicara mengenai kehilangan hubungan, kecemburuan, kerinduan, proses penyembuhan, serta keberanian untuk kembali memilih diri sendiri.
Ruth B Peace to Make Mengakhiri Penantian Lima Tahun
Album terakhir Ruth sebelum proyek ini adalah Moments in Between pada 2021. Setelah itu, ia masih berkarya dan merilis musik. Akan tetapi, penggemar harus menunggu sekitar lima tahun untuk mendapatkan album penuh berikutnya.
Jeda panjang tersebut ternyata memberikan perubahan besar pada cara Ruth melihat kariernya.
Sebelumnya, ia sempat merasakan tekanan untuk menciptakan karya yang mampu menyamai keberhasilan lagu-lagu terbesarnya. Situasi seperti itu tentu tidak mudah. Ketika seorang musisi memiliki lagu yang sangat populer, setiap karya berikutnya hampir selalu dibandingkan dengan kesuksesan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, cara pandang Ruth mulai berubah.
Alih-alih terus mengejar sebuah hit, ia mencoba kembali menikmati alasan utama dirinya membuat musik. Dengan demikian, proses kreatif menjadi lebih bebas karena tidak semuanya harus diukur melalui angka atau popularitas.
Perubahan tersebut terasa penting dalam Peace to Make.
Ruth tidak terdengar seperti musisi yang sedang berusaha kembali ke masa kejayaannya. Justru, ia terdengar seperti seseorang yang telah melewati banyak hal selama lima tahun dan sekarang memiliki cerita baru untuk dibagikan.
Bayang-Bayang Besar “Dandelions”
Membicarakan Ruth B. memang sulit tanpa menyebut “Dandelions”.
Lagu tersebut sebenarnya bukan rilisan baru ketika akhirnya menjadi sangat populer. “Dandelions” merupakan bagian dari album debut Safe Haven yang hadir pada 2017.
Namun, beberapa tahun kemudian, lagu itu menemukan kehidupan keduanya.
Media sosial membantu memperkenalkan “Dandelions” kepada generasi pendengar baru. Potongan lagu mulai digunakan dalam berbagai video. Selanjutnya, semakin banyak orang mencari versi lengkapnya melalui layanan streaming.
Popularitasnya kemudian menyebar ke berbagai negara.
Fenomena tersebut menjadi contoh menarik tentang bagaimana pola konsumsi musik berubah. Pada era streaming dan media sosial, usia sebuah lagu tidak selalu menentukan peluangnya untuk menjadi hit.
Sebuah lagu berumur beberapa tahun dapat tiba-tiba kembali mendapatkan jutaan pendengar.
Bagi Ruth, keberhasilan tersebut tentu menjadi sesuatu yang luar biasa. Di sisi lain, popularitas “Dandelions” juga menciptakan ekspektasi yang sangat besar terhadap karya berikutnya.
Untungnya, Ruth B Peace to Make tidak terdengar seperti usaha untuk mengulang formula lama.
Dari Patah Hati Menuju Album Baru
Di balik Peace to Make terdapat pengalaman yang sangat personal.
Sebagian besar cerita dalam album berkaitan dengan berakhirnya hubungan jangka panjang Ruth. Ia mengalami perpisahan tersebut ketika berusia 28 tahun. Kemudian, berbagai emosi dari pengalaman itu menjadi salah satu fondasi utama album barunya.
Meski berangkat dari patah hati, album ini tidak berhenti pada kesedihan.
Sebaliknya, Ruth mencoba melihat apa yang terjadi setelah sebuah hubungan selesai.
Ada rasa kehilangan ketika seseorang yang sebelumnya selalu hadir tiba-tiba tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, muncul kecemburuan, kerinduan, pertanyaan, bahkan keinginan untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil memang benar.
Emosi seperti itu tidak selalu nyaman untuk dibicarakan.
Namun, Ruth justru menggunakannya sebagai bahan untuk menulis.
Hasilnya adalah album yang terasa seperti perjalanan menuju penerimaan, bukan sekadar kumpulan lagu mengenai mantan kekasih.
Dua Belas Lagu dalam “Peace to Make”
Peace to Make membawa 12 lagu dengan perjalanan emosional yang cukup jelas.
Album dibuka melalui “Bad Combination”. Setelah itu, pendengar bertemu dengan “Best Days”, “Peace To Make”, “Didn’t I”, “Jealous”, “Love’s Vulnerable”, “Breathe”, “Not You”, “Who’s Gonna Love You”, “Shoulda Been Us”, “No Boundaries”, dan “Pick Me”.
Menariknya, susunan tersebut membuat album terasa seperti sebuah proses.
Pada bagian awal, Ruth masih berhadapan dengan hubungan yang telah berakhir. Kemudian, emosi mulai berkembang menjadi refleksi yang lebih luas mengenai cinta dan dirinya sendiri.
“Jealous”, misalnya, membawa salah satu perasaan yang cukup sulit diakui setelah sebuah perpisahan.
Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa hubungan telah selesai. Namun, melihat mantan pasangan melanjutkan hidup bersama orang lain tetap dapat memunculkan kecemburuan.
Alih-alih menyembunyikan emosi semacam itu, Ruth menggunakannya sebagai bagian dari cerita.
Sementara itu, lagu-lagu berikutnya perlahan membawa album menuju arah yang berbeda. Kesedihan masih ada, tetapi perspektifnya mulai berubah.
“Breathe” Memperlihatkan Sisi yang Lebih Rentan
Salah satu momen penting dalam album datang melalui “Breathe”.
Lagu tersebut berkaitan dengan periode sulit dalam kehidupan Ruth yang akhirnya membuatnya mencari bantuan melalui terapi. Pengalaman itu kemudian ikut membentuk perjalanan emosional dalam Peace to Make.
Karena itu, album ini sebenarnya membahas sesuatu yang lebih luas daripada putus cinta.
Perpisahan menjadi pemicu. Namun, setelah itu muncul proses mengenali diri sendiri.
Ruth harus melihat kembali apa yang ia rasakan, bagaimana sebuah hubungan memengaruhinya, serta apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Proses tersebut memberikan kedalaman pada album.
Pendengar tidak hanya diajak melihat seseorang yang sedang kehilangan pasangan. Sebaliknya, mereka mengikuti seseorang yang mencoba memahami dirinya setelah kehilangan tersebut.
“Pick Me” Menjadi Penutup yang Penting
Jika bagian awal album banyak berbicara mengenai hubungan dengan orang lain, lagu terakhir membawa perspektif yang berbeda.
Peace to Make ditutup melalui “Pick Me”.
Judul tersebut terasa sederhana. Namun, setelah perjalanan emosional sepanjang album, maknanya menjadi jauh lebih kuat.
Dalam sebuah hubungan, seseorang terkadang terlalu sibuk berharap untuk dipilih.
Ia ingin orang lain bertahan. Ia ingin dicintai. Bahkan, terkadang ia rela mengorbankan bagian tertentu dari dirinya agar hubungan tersebut tetap berjalan.
Akan tetapi, perjalanan Ruth membawa pertanyaan lain:
Bagaimana jika pada akhirnya kita memilih diri sendiri?
“Pick Me” menjadi bentuk pemberdayaan setelah berbagai emosi yang muncul sebelumnya. Karena itu, lagu tersebut terasa tepat ditempatkan sebagai penutup album.
Jika album berakhir ketika Ruth masih tenggelam dalam patah hati, ceritanya akan terasa belum selesai.
Sebaliknya, “Pick Me” memberikan sebuah tujuan.
Bukan berarti seluruh luka langsung menghilang. Namun, setidaknya Ruth sudah mengetahui ke mana ia ingin melangkah.
Musik Ruth B. Tetap Familiar, tetapi Lebih Dewasa
Perubahan dalam kehidupan Ruth tidak membuatnya meninggalkan seluruh identitas musikal yang sudah dikenal pendengar.
Piano dan gitar akustik masih mendapatkan ruang. Selain itu, vokalnya tetap menjadi salah satu pusat utama dalam album.
Namun, Peace to Make juga memperluas karakter tersebut melalui sentuhan pop, R&B, dan produksi yang terasa intim.
Pendekatan seperti ini cocok dengan tema albumnya.
Cerita personal tidak selalu membutuhkan produksi yang megah. Justru, instrumen yang lebih terkendali dapat memberikan ruang bagi vokal dan cerita untuk tampil lebih jelas.
Di sisi lain, Ruth juga tidak ingin musiknya berhenti berkembang.
Ia menyebut berbagai inspirasi, mulai dari Lana Del Rey hingga Aretha Franklin dan Lorde. Selain itu, akar budaya Ethiopia miliknya juga ikut memberikan pengaruh terhadap cara Ruth melihat musik.
Perpaduan tersebut membantu Peace to Make terasa familiar tanpa harus menjadi pengulangan dari album sebelumnya.
Bekerja Bersama Cole M.G.N.
Dalam mengembangkan Ruth B Peace to Make, Ruth bekerja bersama produser Cole M.G.N.
Kolaborasi tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan proses album sebelumnya. Ruth kembali menjalani proses kreatif bersama orang lain di studio setelah Moments in Between banyak dibentuk dalam kondisi yang lebih terisolasi.
Bekerja bersama produser tentunya bukan hanya mengenai menentukan instrumen atau menyusun struktur lagu.
Produser juga dapat membantu seorang artis melihat materi dari perspektif berbeda.
Dalam kasus Ruth, proses kolaboratif tersebut tampaknya memberikan ruang untuk mengeksplorasi ide tanpa menghilangkan karakter personal yang menjadi kekuatan penulisannya.
Menariknya, hubungan kreatif tersebut juga membawa dukungan dari Carly Rae Jepsen. Ruth mengungkapkan bahwa Carly sempat memberikan tanggapan positif terhadap musik yang sedang dikerjakannya.
Dukungan sederhana seperti itu dapat berarti banyak, terutama bagi seorang musisi yang sedang membangun kembali kepercayaan terhadap arah kreatifnya.
Perjalanan Panjang dari Vine hingga “Lost Boy”
Sebelum “Dandelions” menjadi fenomena, Ruth B. sudah memiliki cerita menarik bersama internet.
Kariernya mulai mendapatkan perhatian pada era Vine, platform video pendek yang populer sebelum TikTok mendominasi budaya internet seperti sekarang.
Pada 2013, Ruth mulai membagikan potongan musik melalui platform tersebut. Dari sana, sebuah ide kemudian berkembang menjadi “Lost Boy”, lagu yang membantu memperkenalkan namanya kepada publik lebih luas.
“Lost Boy” menjadi titik penting.
Kemudian, album Safe Haven memperlihatkan bahwa Ruth bukan sekadar musisi internet dengan satu lagu populer.
Beberapa tahun setelahnya, “Dandelions” justru mendapatkan ledakan popularitasnya sendiri.
Dengan demikian, perjalanan Ruth sebenarnya telah melewati beberapa generasi media sosial.
Ia tumbuh pada masa Vine, bertahan memasuki era streaming, kemudian melihat lagu lamanya mendapatkan kehidupan baru melalui TikTok.
Sekarang, Ruth memasuki fase berikutnya.
Tidak Lagi Mengejar “Dandelions” Berikutnya
Kesuksesan besar dapat menjadi hadiah sekaligus beban bagi seorang musisi.
Bayangkan memiliki satu lagu yang terus diputar ratusan juta kali.
Setiap kali masuk studio, pertanyaan mengenai apakah lagu berikutnya bisa mencapai angka serupa mungkin akan muncul.
Ruth pun pernah merasakan tekanan tersebut.
Namun, waktu membuat perspektifnya berubah. Ia mulai melepaskan kebutuhan untuk selalu menciptakan hit berikutnya dan kembali berfokus pada alasan dirinya menyukai proses menulis lagu.
Perubahan tersebut mungkin menjadi salah satu keputusan terpenting dalam era album ini.
Sebab, mengejar “Dandelions” berikutnya belum tentu menghasilkan karya yang lebih baik.
Bahkan, usaha terlalu keras untuk mengulang masa lalu dapat membuat seorang musisi kehilangan identitasnya.
Sebaliknya, Ruth memilih berbicara mengenai kehidupan yang ia jalani sekarang.
Ruth B Peace to Make Membuka Babak Baru
Lima tahun setelah Moments in Between, Ruth akhirnya memiliki album baru untuk diberikan kepada pendengarnya.
Namun, istilah comeback hanya menjelaskan sebagian kecil dari ceritanya.
Peace to Make bukan sekadar tanda bahwa Ruth kembali merilis album. Lebih dari itu, proyek ini memperlihatkan perubahan seorang musisi setelah melewati pengalaman yang tidak mudah.
Hubungan panjang berakhir.
Patah hati datang.
Kemudian, Ruth harus berhadapan dengan kecemburuan, kerinduan, kesendirian, dan pertanyaan mengenai dirinya sendiri.
Meski demikian, perjalanan tersebut perlahan mengarah menuju sesuatu yang lebih sehat.
Ia mulai berdamai.
Bukan berarti melupakan seluruh pengalaman yang terjadi. Sebaliknya, berdamai berarti menerima bahwa sesuatu pernah menjadi bagian penting dari hidup, meskipun akhirnya tidak bertahan selamanya.
Di situlah judul Peace to Make mendapatkan maknanya.
Kedamaian bukan sesuatu yang hanya ditunggu sampai datang.
Terkadang, kedamaian harus dibuat sendiri.
Lima Tahun Kemudian, Ruth B Memilih Melangkah Maju
“Lost Boy” akan selalu menjadi bagian penting dari awal perjalanan Ruth B.
Begitu pula “Dandelions”.
Lagu tersebut telah berkembang menjadi salah satu karya paling dikenal dalam diskografinya dan memperkenalkan Ruth kepada jutaan pendengar yang mungkin bahkan belum mengenalnya ketika Safe Haven pertama kali dirilis.
Namun, seorang musisi tidak dapat selamanya hidup di bawah bayangan karya lama.
Pada 21 Agustus 2026, Ruth akhirnya memberikan jawabannya melalui album baru.
Ruth B Peace to Make tidak mencoba menghapus masa lalu. Album ini justru menerima bahwa seluruh pengalaman tersebut telah membentuk dirinya.
Hanya saja, Ruth kini memilih bergerak maju.
Dua belas lagu membawa perjalanan dari hubungan yang berakhir menuju penerimaan diri. Pada akhirnya, album ditutup bukan dengan permintaan agar seseorang kembali memilihnya, melainkan dengan keberanian untuk memilih dirinya sendiri.
Setelah lima tahun tanpa album penuh, Ruth B tidak kembali untuk menjadi penyanyi yang sama seperti dahulu. Ia kembali membawa cerita tentang seseorang yang telah terluka, tumbuh, dan akhirnya belajar berdamai.
Dan mungkin, setelah kesuksesan besar “Lost Boy” dan “Dandelions”, itulah comeback yang sebenarnya paling ia butuhkan.