Kenangan sering kali terdengar seperti sesuatu yang indah. Kita mengingat tempat yang pernah dikunjungi, orang yang pernah dekat, percakapan kecil, hingga masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Namun, semakin lama sebuah kenangan disimpan, semakin jelas pula bahwa nostalgia tidak selalu membawa kebahagiaan.

Terkadang, mengingat sesuatu justru membuat kita sadar bahwa masa tersebut tidak mungkin kembali.

Perasaan itulah yang dibawa beabadoobee melalui single terbarunya, “Memories”.

Lagu tersebut hadir pada 21 Agustus 2026 sebagai materi terbaru menuju album studio keempat beabadoobee, Pylon. Album itu sendiri dijadwalkan meluncur pada 18 September mendatang melalui Dirty Hit dan Interscope Records.

Namun, “Memories” bukan sekadar single tambahan untuk memanaskan perilisan album.

Di balik musik yang terasa lebih ringan, lagu ini membawa cerita mengenai nostalgia, perubahan, dan perasaan aneh ketika seseorang melihat kembali masa lalu dari posisi hidup yang sudah berbeda.

Bagi beabadoobee, tema tersebut terasa semakin personal karena Pylon lahir ketika dirinya kembali menulis dalam situasi yang mengingatkannya pada masa remaja.

“Memories” Membawa Nostalgia yang Terasa Manis Sekaligus Pahit

Judul “Memories” mungkin langsung memberikan gambaran mengenai arah ceritanya.

Namun, beabadoobee tidak memperlakukan kenangan sebagai sesuatu yang sepenuhnya romantis.

Ada kontradiksi di dalamnya.

Sebuah kenangan dapat terasa menyenangkan ketika dilihat dari kejauhan. Akan tetapi, keinginan untuk kembali hidup di dalam kenangan tersebut justru dapat membawa rasa sakit.

Pendekatan itu membuat “Memories” terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.

Kita mungkin pernah melihat foto lama kemudian tersenyum. Beberapa detik kemudian, muncul kesadaran bahwa orang, tempat, atau keadaan dalam foto tersebut sudah berubah.

Nostalgia akhirnya membawa dua perasaan sekaligus.

Ada rasa bahagia karena pernah memilikinya.

Namun, ada pula kesedihan karena mengetahui bahwa waktu tidak dapat diputar kembali.

“Memories” bermain di wilayah emosional tersebut. Lagu ini terdengar cukup cerah pada permukaan, tetapi menyimpan kesedihan yang lebih besar ketika diperhatikan lebih jauh.

beabadoobee Kembali Menulis Seperti Dirinya Saat Berusia 17 Tahun

Ada alasan mengapa tema kenangan terasa sangat cocok dengan era Pylon.

Beatrice Laus, nama asli beabadoobee, menghabiskan sebagian proses penulisan album tersebut ketika sedang berada dalam perjalanan tur.

Alih-alih selalu bekerja dalam studio besar, ia kembali menemukan dirinya menulis sendirian di kamar hotel.

Situasi tersebut mengingatkannya pada masa ketika ia masih berusia sekitar 17 tahun dan menulis lagu seorang diri di kamar tidur.

Perbedaannya tentu sangat besar.

Saat remaja, beabadoobee belum memiliki karier seperti sekarang.

Kini, ia sudah memiliki jutaan pendengar, tampil di berbagai panggung besar, merilis sejumlah album, dan menjalani kehidupan yang membuatnya terus berpindah dari satu kota ke kota lainnya.

Namun, proses kreatif itu justru membawanya kembali menuju sesuatu yang familiar.

Seorang perempuan sendirian di sebuah ruangan, ditemani pikiran dan lagu yang sedang ia tulis.

Hanya saja, kamar tidur masa remajanya kini berubah menjadi kamar hotel di tengah perjalanan tur dunia.

“Memories” Jadi Potongan Ketiga dari Album “Pylon”

“Memories” bukan lagu pertama yang membuka perjalanan menuju Pylon.

Sebelumnya, beabadoobee sudah memperkenalkan “Sun Has Set” sebagai single utama. Setelah itu, ia melanjutkannya dengan “Switchblade”.

Kini “Memories” menjadi lagu ketiga yang tersedia menjelang perilisan album.

Menariknya, ketiga lagu tersebut mulai memberikan gambaran bahwa Pylon tidak akan berjalan dalam satu emosi yang sama.

“Sun Has Set” membawa energi yang lebih tajam dan penuh kegelisahan.

“Switchblade” kemudian memperluas gambaran mengenai arah album.

Sementara itu, “Memories” menunjukkan sisi yang lebih lembut dan reflektif.

Perbedaan tersebut penting karena beabadoobee tampaknya sedang membangun album yang lebih luas dibandingkan sekadar mengulang formula karya sebelumnya.

“Pylon” Akan Menjadi Album Keempat beabadoobee

Pylon memiliki posisi penting dalam perjalanan karier beabadoobee.

Proyek tersebut akan menjadi album studio keempatnya, menyusul Fake It Flowers pada 2020, Beatopia pada 2022, dan This Is How Tomorrow Moves pada 2024.

Album terakhir itu menjadi pencapaian besar dalam kariernya.

This Is How Tomorrow Moves berhasil mencapai posisi nomor satu di Inggris. Kini, dua tahun kemudian, beabadoobee memilih membawa musiknya menuju arah yang terasa lebih keras dan langsung.

Pylon akan berisi 14 lagu.

Daftarnya mencakup lagu pembuka “Pylon”, kemudian “Sun Has Set”, “Estranged”, “Switchblade”, “Write Me A Letter”, “It’s Alright”, “In Motion”, hingga “Memories” yang ditempatkan sebagai trek kedelapan.

Bagian berikutnya dilanjutkan oleh “Nothing To Prove”, “Radio”, “Powerlines”, “Spark”, “Despite That”, dan ditutup dengan “Satellite”.

Dengan 14 lagu tersebut, pendengar akan mendapatkan gambaran yang jauh lebih lengkap mengenai fase baru beabadoobee.

Dari Alt-Pop Menuju Grunge dan Emo

Salah satu hal yang membuat Pylon menarik untuk ditunggu adalah perubahan warna musiknya.

beabadoobee memang tidak pernah benar-benar jauh dari gitar.

Sejak awal karier, pengaruh alternative rock, bedroom pop, indie rock, dan musik era 1990-an sudah menjadi bagian penting dari identitasnya.

Namun, Pylon tampaknya akan membawa sisi tersebut lebih jauh.

Album ini disebut menyentuh grunge klasik, Midwest emo, hingga radio rock era 1990-an. Hasilnya diarahkan menjadi sesuatu yang lebih intens dan lebih langsung dibandingkan beberapa proyek sebelumnya.

Pilihan tersebut sebenarnya terasa cukup natural.

Selama beberapa tahun terakhir, generasi pendengar muda kembali menunjukkan ketertarikan besar terhadap berbagai bentuk musik alternatif dari dekade sebelumnya.

Shoegaze, grunge, emo, hingga pop-rock mendapatkan kehidupan baru.

Namun, bagi beabadoobee, pengaruh tersebut bukan sekadar mengikuti tren.

Musik gitar era 1990-an sudah lama menjadi bagian dari fondasi musiknya.

Karena itu, Pylon berpotensi terdengar seperti perkembangan alami dari sesuatu yang sudah lama ada dalam identitasnya.

Daftar Kolaborator “Pylon” Tidak Main-main

Hal lain yang membuat album ini semakin menarik adalah orang-orang yang terlibat.

beabadoobee bekerja dengan sejumlah nama besar dari dunia alternatif dan rock.

Di antaranya terdapat Hayley Williams, vokalis Paramore yang juga memiliki karier solo kuat.

Kemudian ada Chino Moreno dari Deftones, salah satu figur penting dalam perkembangan alternative metal.

Nama Brendan Yates dari Turnstile juga terlibat, begitu pula Matty Healy dan George Daniel dari The 1975.

Selain mereka, proyek ini turut melibatkan Shane Moran dari Title Fight, Andrew Fisher dari Basement, serta Evan Stephens Hall dari Pinegrove.

Daftar tersebut memberikan gambaran mengenai dunia yang ingin dibangun beabadoobee.

Paramore, Deftones, Turnstile, Title Fight, Basement, dan Pinegrove datang dari wilayah musik yang berbeda, tetapi semuanya memiliki hubungan kuat dengan berbagai cabang rock alternatif.

Karena itu, Pylon berpotensi menjadi salah satu album beabadoobee dengan identitas gitar paling kuat.

Judul “Pylon” Juga Memiliki Cerita Personal

Nama Pylon sendiri bukan dipilih hanya karena terdengar menarik.

Judul tersebut merujuk pada struktur menara listrik yang dapat ditemukan di berbagai tempat.

Ketika beabadoobee menjalani kehidupan di jalan dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, pylon menjadi sesuatu yang terus ia lihat.

Bentuk tersebut kemudian mengingatkannya pada hubungan dengan teman dan keluarga di rumah.

Ada ironi yang menarik di sana.

Pylon merupakan struktur yang membawa listrik dan menghubungkan berbagai wilayah.

Pada saat yang sama, beabadoobee melihatnya ketika dirinya justru mengalami perasaan terputus dan terisolasi akibat kehidupan tur.

Tema itu memiliki hubungan yang kuat dengan “Memories”.

Ketika seseorang jauh dari rumah, ingatan terhadap masa lalu sering terasa semakin kuat.

Hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa tiba-tiba mendapatkan nilai emosional lebih besar.

Dari Kamar Tidur Menuju Arena

Perjalanan beabadoobee sendiri membuat cerita tersebut semakin menarik.

Ia memulai karier dengan pendekatan yang sangat sederhana. Lagu-lagu awalnya tumbuh dari lingkungan bedroom pop dan kemudian mendapatkan perhatian melalui internet.

Sekarang skalanya berubah drastis.

Bersamaan dengan era Pylon, beabadoobee juga bersiap menjalani tur arena pertamanya di Amerika Utara, Inggris, dan Eropa. Tur tersebut dimulai pada Oktober dan mencakup sejumlah venue besar, termasuk Madison Square Garden di New York dan The O2 di London.

Perubahan tersebut sangat besar.

Namun, proses kreatif album justru membawanya kembali ke kondisi yang menyerupai awal perjalanan.

Menulis sendiri.

Berada di sebuah kamar.

Mencoba menerjemahkan perasaan menjadi lagu.

Kontras itulah yang membuat era Pylon terasa menarik.

Kariernya semakin besar, tetapi sebagian proses kreatifnya kembali menuju tempat yang sangat kecil dan personal.

“Memories” Menunjukkan Sisi Lain dari Era Baru beabadoobee

Setelah energi yang lebih keras dari materi sebelumnya, “Memories” memberikan ruang bernapas.

Lagu ini menunjukkan bahwa album yang dipenuhi pengaruh grunge dan emo tidak harus terus menerus terdengar agresif.

Ada ruang untuk kelembutan.

Ada ruang untuk nostalgia.

Dan tentu saja, ada ruang untuk kesedihan yang tidak harus disampaikan dengan ledakan gitar.

Respons awal penggemar juga memperlihatkan hal tersebut. Dalam komunitas penggemar beabadoobee, beberapa pendengar menyukai “Memories” karena menawarkan sisi yang lebih lembut dibandingkan “Sun Has Set”, sementara lainnya masih memilih energi rock dari single sebelumnya sebagai favorit.

Perbedaan respons seperti itu justru menarik.

Artinya, tiga lagu awal sudah menawarkan karakter yang cukup berbeda untuk membuat pendengar memiliki favorit masing-masing.

Satu Bulan Lagi Menuju “Pylon”

Kini jarak menuju album baru semakin dekat.

Pylon dijadwalkan hadir pada 18 September 2026, kurang dari satu bulan setelah “Memories”. Informasi perilisan tersebut juga tercantum pada kanal resmi beabadoobee.

Dengan “Sun Has Set”, “Switchblade”, dan sekarang “Memories”, gambaran mengenai album mulai terbentuk.

Namun, masih ada sebelas lagu lain yang menunggu.

Lebih menarik lagi, berbagai kolaborator dari dunia rock alternatif membuat kemungkinan arah musik album tersebut semakin luas.

Apakah Pylon akan menjadi album paling keras dalam diskografi beabadoobee?

Atau justru sisi lembut seperti “Memories” yang nantinya menjadi jantung emosional proyek tersebut?

Jawabannya baru benar-benar terlihat ketika album dirilis.

Nostalgia Tidak Selalu Berarti Ingin Kembali

Pada akhirnya, “Memories” membawa gagasan yang sederhana tetapi mudah terasa personal.

Kita semua memiliki kenangan.

Sebagian membuat kita tertawa ketika mengingatnya. Sebagian lainnya membuat kita bertanya bagaimana kehidupan bisa berubah begitu jauh.

Namun, mengenang masa lalu tidak selalu berarti kita ingin kembali ke sana.

Terkadang, sebuah kenangan hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan.

beabadoobee tampaknya memahami kontradiksi tersebut dengan baik.

Ia sekarang berada di titik karier yang sangat berbeda dibandingkan ketika masih menulis lagu sendirian sebagai remaja. Album nomor satu, panggung festival, jutaan pendengar, dan tur arena kini menjadi bagian dari kehidupannya.

Namun, ketika menulis Pylon sendirian di kamar hotel, sebagian perasaan lama itu kembali muncul.

Dari situlah “Memories” menemukan tempatnya.

Sebuah lagu mengenai masa lalu yang hadir tepat ketika beabadoobee sedang bersiap mengambil salah satu langkah terbesar menuju masa depan.

Dan jika “Memories” menjadi gambaran tentang kedalaman emosional yang akan hadir dalam Pylon, maka penantian menuju 18 September tampaknya akan semakin menarik.